Harmonisasi Kebudayaan dan Agama: Praktik Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Negeri di Atas Awan

Penulis: Fatimatuz Zahra, Editor: Muslimah

Foto: Wikipedia

Kearifan lokal menurut KBBI berarti kebijaksanaan, kecendekiaan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam berinteraksi. Kearifan lokal adalah berbagai gagasan-gagasan, nilai-nilai atau pandangan masyarakat yang dianggap memiliki sifat bijaksana dan bernilai baik. Secara umum kearifan lokal diikuti, dipercayai, dan menjadi ciri khas serta identitas masyarakat setempat. Kearifan lokal umumnya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui cerita dari mulut ke mulut. Kearifan lokal merupakan warisan masa lalu yang berasal dari leluhur. Tidak hanya berbentuk sastra tradisional (sastra lisan maupun tulisan), kearifan lokal juga dapat berbentuk sebuah pandangan hidup, kesenian, kesehatan, arsitektur maupun cara berinteraksi dengan lingkungan. Maka, kearifan lokal dapat ditemukan pada cerita rakyat, peribahasa, lagu, permainan rakyat maupun kebiasaan yang sudah menjadi tradisi pada masyarakat setempat.

Sedangkan kata moderasi berasal dari Bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

Baca juga: Mengembangkan Moderasi Beragama Melalui Interaksi Sosial yang Inklusif Dan Toleran

Salah satu praktik moderasi beragama dalam kearifan lokal negeri di atas awan yaitu Kesenian Kuda Kepang dan Tari Topeng (Lengger) dari Tunggu Seto Tempuran (TST), Desa Tempuran, Kecamatan Tlogo, Kabupaten Wonosobo. Perwujudan manusia yang memiliki kebudayaan dan keindahan masyarakat Wonosobo diekspresikan melalui seni tari, musik, maupun seni rupa. Lengger, berasal dari kata eling (mengingatkan) dan ngger, “ngger” adalah sebutan untuk anak kecil yang mempunyai arti kita harus selalu ingat kepada Allah SWT. pencipta alam semesta yang patut untuk disembah dan dipuji.

Tarian ini memberikan nasihat dan pesan kepada setiap orang untuk dapat bersikap mengajak dan membela kebenaran dan menyingkirkan kejelekan. Lengger merupakan tari tradisonal rakyat yang dipentaskan oleh dua orang, laki-laki dan perempuan, laki-laki memakai topeng dan perempuan mengenakan baju tradisional. Mereka menari selama 10 menit dalam setiap babak. Diiringi alunan musik gambang, saron, kendang, gong dan lainnya. Tari Lengger biasa dilakukan pada saat upacara ritual seperti bersih desa, ruwatan rambut gimbal, penyambutan tamu pernikahan, khitanan ataupun penyambutan Hari Raya Idulfitri.

Sebagai kebudayaan lokal, Tari Kengger mempunyai keunikan karena di dalamnya terkandung nilai-nilai seperti estetika, perjuangan, kejujuran, dan juga kepercayaan. Kesenian Tari Lengger berorientasi pada acara ritual ataupun pemujaan. Tari Lengger juga merupakan bentuk akulturasi dari warisan budaya Hindu dan Budha dengan kedatangan ajaran agama Islam oleh para wali terdahulu. Hal ini dibuktikan dengan nyanyian yang dialunkan oleh waranggono di antaranya yaitu :

“Poro dulur jeneng iro do elingo”
(Para saudaraku nama dia (Tuhan) pada ingatlah)
“Mumpung sih do iseh ono nang alam ndonyo”
(Manfaatkan situasi saat masih ada di alam dunia)
“Gusti Pengeran”
“Allah Allahu Allah lailahailallah”

Biasanya kesenian ini diadakan secara berkala setiap bulan, untuk hari-hari tertentu di desa setempat. Dibuka untuk umum tanpa adanya pungutan biaya, sehingga tak pernah sepi dari pengunjung setempat, walau hujan deras sekalipun masyarakat tetap antusias meramaikan acara. Kesenian Rayon Tunggul Seto Tempuran juga terkadang diundang untuk tampil di acara-acara desa yang lain. Upaya pengenalan kesenian ini juga sudah menjangkau media sosial berupa instagram dan threads: @tst_tunggulsetotempuran yang bertujuan untuk menjangkau masyarakat dengan skala yang lebih besar lagi.

Baca juga: Wayang sebagai Jembatan Harmoni antara Spiritualitas dan Sains dalam Budaya Jawa

Kesenian ini dibuka dengan penampilan jaranan anak-anak dengan alunan gamelan pada sore hari dan dilanjutkan dengan tarian lengger sampai menjelang maghrib. Lalu beristirahat pada waktu ba’da maghrib sampai isya’ dengan alunan gamelan. Selanjutnya dibuka kembali dengan inti acara yaitu tari kuda kepang orang dewasa yang sangat dinanti-nantikan oleh para pengunjung. Kemudian ditutup dengan Tari Lengger sampai penghujung acara pada dini hari.

Nah, bentuk praktik moderasi beragama dalam kearifan lokal negeri di atas awan ini selain dari akulturasi dan isi budayanya, dalam pelaksanaan acaranya juga termasuk bentuk praktik moderasi beragama. Pasalnya, saat waktu sholat datang dan adzan berkumandang, acara dihentikan serentak untuk menghormati datangnya waktu sholat dan memberi waktu istirahat untuk para pengunjung melaksanakan sholat. Dalam konteks ini, moderasi beragama tidak hanya menjadi jalan tengah antar umat beragama, tetapi juga menjadi jalan tengah dalam pelestarian kearifan lokal, agar senantiasa harmonis dan dapat hidup berdampingan antara keyakinan beragama dengan kebudayaan nenek moyang.

Refleksi Puasa: Dari Tradisi Nabi Hingga Makna Spiritual di Era Modern

Penulis: Muhammad Ash-Shiddiqy, Editor: Tegar Rifqi

Puasa, salah satu ibadah utama dalam Islam, memiliki sejarah panjang yang bermula dari tradisi Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya. Sebelum puasa Ramadan disyariatkan, Nabi Muhammad SAW telah menjalankan puasa selama 13 tahun di Makkah dan hampir dua tahun pada awal kehidupannya di Madinah. Puasa yang beliau jalankan mengikuti tradisi Nabi Musa AS, yang juga dipraktikkan oleh bangsa Quraish, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai puasa Asyura. Tradisi ini mengungkap keterkaitan antara praktik puasa dalam Islam dengan tradisi puasa umat Yahudi dan Kristiani, setidaknya menurut versi sejarah Islam.

Kemudian, melalui turunnya ayat 183 surat Al-Baqarah, puasa Ramadan ditetapkan sebagai kewajiban bagi umat Muslim. Ayat tersebut menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Pernyataan ini tidak hanya menegaskan kewajiban berpuasa, tetapi juga mengaitkannya dengan tradisi spiritual umat terdahulu.

Baca juga: Keutamaan Awal Ramadan: Cara Niat Puasa di Malam Pertama Bulan Ramadan

Puasa juga menampakkan sisi kemanusiaannya. Dalam ayat-ayat selanjutnya—khususnya hingga ayat 186 surat Al-Baqarah—Allah SWT memberikan keringanan bagi mereka yang berhalangan menjalankan puasa, seperti orang sakit, musafir, atau wanita hamil dan menyusui, dengan alternatif fidyah berupa memberi makan orang miskin. Hal ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang berpihak pada kemanusiaan, di mana puasa bukan dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan untuk menumbuhkan nilai ketakwaan, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung dan meningkatkan kepekaan sosial.

Di tengah arus modernitas yang serba cepat, puasa mengajarkan kita untuk melambatkan laju kehidupan. Ambisi untuk selalu melaju tanpa henti seringkali membuat kita lupa berhenti sejenak, merenung, dan menikmati hidup secara lebih bermakna. Puasa berperan sebagai “rem waktu” yang mengajarkan kita menahan diri, menanti waktu berbuka, serta merasakan setiap detik dengan intens, sehingga kita belajar untuk menghargai setiap momen dengan ketenangan dan kesadaran.

Baca juga: Ramadan Bulan Kebangkitan Ummat

Dalam menyambut Ramadan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibadah kita lebih maksimal. Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, sehingga sebaiknya diisi dengan memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Kewajiban seperti puasa dan shalat berjamaah bagi laki-laki harus diprioritaskan, begitu pula shalat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Donasi buka puasa memang baik, tetapi hendaknya dilakukan dengan sederhana dan tidak berlebihan agar keikhlasan tetap terjaga.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah waktu istimewa yang sebaiknya dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah, terutama dalam mencari malam Lailatul Qadar. Keluarga juga perlu dilibatkan dalam suasana Ramadan, dengan menanamkan nilai dan keutamaannya kepada istri dan anak-anak agar ibadah bersama menjadi lebih bermakna. Selain itu, menargetkan khatam Al-Qur’an minimal empat kali selama Ramadan bisa menjadi cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berbuka puasa di rumah bersama keluarga lebih utama dan penuh berkah dibandingkan berbuka di luar. Ceramah Tarawih sebaiknya tidak terlalu panjang agar tidak memberatkan jamaah. Para imam shalat hendaknya memimpin dengan keikhlasan, bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan materiil. Ramadan juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah diri dan memperbanyak istighfar serta tobat sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih baik.

Baca juga: Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga merupakan sarana untuk mengasah spiritualitas, empati, dan kesadaran akan waktu. Dari tradisi Nabi Muhammad SAW hingga relevansinya di era modern, puasa mengajarkan kita untuk hidup lebih bermakna. Semoga Ramadan tahun ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tradisi Menyambut Ramadan: Nyekar, Padusan, dan Nyadran

Penulis: Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy,M.E; Editor: Azzam Nabil H.

Bulan Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, menyambut Ramadan tidak hanya dilakukan dengan persiapan spiritual, tetapi juga melalui berbagai tradisi lokal yang kaya akan makna. Beberapa tradisi yang populer di masyarakat Indonesia antara lain perang petasan, kembang api, bersih-bersih masjid, hingga “Nyekar”. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang dalam.

Nyekar: Ziarah Kubur Sebelum Ramadan

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Nyekar, yaitu ziarah ke makam leluhur seperti orang tua, nenek, kakek, buyut, atau saudara yang telah meninggal. Dalam tradisi ini, keluarga biasanya membacakan doa, seperti surat Yasin dan tahlil, serta menaburkan bunga di makam. Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa Nyekar dilakukan sebelum Ramadan? Jawabannya sederhana: ini soal “roso” atau perasaan.

Ketika Ramadan tiba, semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Bahkan tidurnya orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang kita sayangi tetapi sudah meninggal? Mereka tidak bisa lagi menikmati “diskon pahala” atau “cuci gudang dosa” yang terjadi selama Ramadan. Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur dan kasih sayang, kita mengunjungi makam mereka dan mengirimkan doa. Doa anak sholeh adalah salah satu pahala yang terus mengalir bagi orang yang telah meninggal, selain sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.

Padusan: Membersihkan Diri Sebelum Ramadan

Selain Nyekar, ada juga tradisi “Padusan” yang populer di Jawa. Padusan berasal dari kata “adus” yang berarti mandi. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan. Filosofi Padusan memiliki beberapa makna mendalam:

Makna mendalam dari filosofi tersebut yang pertama adalahPembersihan Diri: Padusan melambangkan pembersihan diri dari dosa dan kesalahan, sehingga kita bisa memulai ibadah dengan hati yang bersih.

Kedua, Pembaharuan Diri: Tradisi ini juga melambangkan pembaharuan diri, yaitu meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baru yang lebih baik. Ketiga, Pengukuhan Iman: Padusan dapat memperkuat iman dan meningkatkan kesadaran spiritual, sehingga kita lebih siap menghadapi tantangan hidup selama Ramadan.

Keempat, Pembersihan Jiwa: Padusan juga diartikan sebagai pembersihan jiwa dari kotoran batin seperti kesombongan, kebencian, dan keinginan yang tidak baik. Dan yang kelima adalah Persiapan untuk Ramadan: Secara khusus, Padusan adalah persiapan untuk menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci.

Nyadran: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

Selain Nyekar dan Padusan, ada juga tradisi Nyadran yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Nyadran biasanya dilakukan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) atau Sya’ban (menurut kalender Hijriyah). Tradisi ini juga dikenal sebagai Ruwahan karena dilakukan pada bulan Ruwah. Beberapa ciri khas Nyadran antara lain:

Ziarah Kubur: Seperti Nyekar, ziarah kubur adalah bagian penting dari Nyadran; Mandi di Sungai (Padusan): Membersihkan diri di sungai sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga; Membersihkan Lingkungan: Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar; Kenduri: Acara makan bersama sebagai bentuk syukur dan silaturahmi; Kirab dan Ujub: Prosesi budaya yang melibatkan masyarakat setempat.; Doa dan Tasyukuran: Acara doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya Ramadan.

Makna Nyadran

Nyadran bukan sekadar tradisi, tetapi juga ekspresi rasa gembira, syukur, dan kebahagiaan menyambut Ramadan. Tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, dan silaturahmi. Melalui Nyadran, masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Tradisi-tradisi seperti Nyekar, Padusan, dan Nyadran adalah warisan budaya yang patut dilestarikan. Meskipun berasal dari budaya lokal, tradisi ini sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mereka mengajarkan pentingnya membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan mempersiapkan hati untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Jadi, sudah siap menjadi bagian dari “Golkar” (Golongan Nyekar)? Mari kita jaga tradisi lama yang baik ini, sambil terus memperkaya makna spiritualnya dalam kehidupan kita. Dengan begitu, Ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh berkah, tetapi juga bulan yang penuh dengan kebersamaan dan kasih sayang.