Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Penulis: Roro Lintang Aningtyas, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menonton suatu pertandingan, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah jalannya permainan, bukan? Siapa yang mendapat poin, siapa yang melakukan kesalahan, atau siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan. Padahal, ada momen kecil yang justru menarik untuk dicermati, salah satunya ketika pemain tidak sepakat dengan keputusan wasit.

​Hal ini terjadi dalam pertandingan bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat pertandingan berlangsung, ada pihak yang mengajukan protes terhadap keputusan wasit. Protes tersebut diterima oleh wasit dengan baik. Wasit kemudian menjelaskan alasan mengapa keputusan itu diambil. Setelah mendengarkan penjelasan wasit, pihak tersebut akhirnya menerima keputusan yang diberikan.

​Sekilas, kejadian seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam pertandingan, protes terhadap keputusan wasit merupakan hal yang wajar. Pemain kerap melihat kejadian hanya dari sudut pandangnya, sementara wasit memiliki pertimbangannya sendiri. Namun, dari kejadian sederhana itu terdapat satu pelajaran menarik: tidak semua hal yang berjalan di luar harapan harus berakhir menjadi perselisihan.

Baca  juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Dalam konsep moderasi beragama, nilai yang berkaitan erat dengan hal tersebut adalah keadilan. Adil bukan berarti semua orang harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil lebih kepada menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melihat persoalan secara seimbang. Di lapangan, wasit memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan aturan permainan. Pemain tentu boleh merasa tidak setuju dan menyampaikan keberatan jika merasa ada keputusan yang kurang tepat. Hal itu merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Akan tetapi, sebuah keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada siapa yang paling keras meluapkan protesnya.

​Kita memang kerap menganggap sesuatu tidak adil saat berada di pihak yang merasa dirugikan. Sebaliknya, jika keputusan itu menguntungkan, kita cenderung tidak mempersoalkannya. Pada pertandingan bola voli tersebut, pihak yang dirugikan sempat menilai keputusan wasit keliru, padahal mereka belum tentu memahami seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.

​Salah satu kuncinya terletak pada kerelaan untuk mendengarkan penjelasan wasit. Dalam pertandingan tadi, pihak yang memprotes tidak terus mempertahankan keberatannya setelah wasit memberi penjelasan secara jernih. Keputusan wasit pun akhirnya diterima. Dari sini terlihat bahwa menyampaikan ketidaksetujuan dan menerima keputusan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

​Sikap ini berakar pada nilai tasamuh atau toleransi. Toleransi memang kerap dikaitkan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, toleransi juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan dengan orang yang berpandangan beda. Kita tidak perlu terburu-buru menganggap orang lain salah hanya karena sudut pandang yang tidak sejalan. Dalam pertandingan, setiap pemain memiliki perspektifnya, sedangkan wasit memiliki wewenang serta pertimbangannya. Perbedaan pandangan itu nyata, tetapi tetap bisa dijembatani secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan.

​Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengendalian emosi. Setiap pertandingan sarat dengan tensi tinggi. Saat berjuang mengejar kemenangan, keputusan yang dianggap merugikan tentu memicu kekecewaan. Namun, rasa kecewa inilah yang tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan maupun ucapan yang melukai. Di sinilah nilai antikekerasan hadir secara nyata. Keberatan boleh diutarakan, tetapi penyelesaiannya harus tetap melalui dialog. Dalam insiden tersebut, keberatan disampaikan, wasit memberi argumen, dan akhirnya keputusan dihormati. Persoalan selesai di tempat tanpa memicu perselisihan yang berlarut-larut.

​Sebagai mahasiswa, kita sering menemui dinamika serupa. Misalnya saat kerja kelompok, perbedaan pendapat hampir selalu mewarnai diskusi. Ada yang menginginkan tugas diselesaikan dengan metode tertentu, sementara anggota lain memiliki gagasan yang berbeda. Jika masing-masing bersikukuh merasa paling benar, kerja bersama justru akan jalan di tempat.

​Satu hal yang kerap terlupakan: menghargai orang lain bukan berarti harus selalu menuruti apa yang mereka mau. Kita tetap berhak mempertahankan pemikiran sendiri dan mempertanyakan hal yang dirasa kurang pas. Hanya saja, ada etika dan batasan yang perlu dijaga agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

​Dari laga bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II ini, pelajaran berharga yang dipetik melampaui urusan kalah atau menang. Kita diajak belajar menyikapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan. Moderasi beragama sejatinya tidak selalu berkutat pada isu-isu besar; nilai-nilainya hadir dari peristiwa sederhana di sekitar kita setiap hari. Dari sebuah protes di lapangan voli, kita belajar tentang arti keadilan, penghargaan atas perbedaan, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Hidup memang tidak selalu berjalan seturut kehendak kita, tetapi kedewasaan kita diuji dari cara kita menyikapinya.

Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau

Penulis: Sauqi Arifatu Anissa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Moderasi beragama terkadang dipahami sebagai konsep yang rumit, dipelajari melalui buku tebal, atau didiskusikan dalam seminar formal. Sejatinya, esensi moderasi beragama seperti toleransi, antikekerasan, menghargai tradisi, dan komitmen kebangsaan dapat diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu ruang yang efektif dalam praktik nilai-nilai tersebut ada di lapangan olahraga, khususnya melalui pertandingan futsal.

​Dalam permainan futsal, ruang gerak yang terbatas dan tempo permainan yang cepat menuntut adanya interaksi fisik yang intens. Di sinilah dinamika sosial terjadi. Namun, ada satu momen krusial dalam pertandingan futsal yang secara sempurna menjadi manifestasi moderasi beragama. Momen tersebut ialah saat seorang pemain tanpa sengaja menjatuhkan lawan, kemudian secara spontan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

​Momen mengulurkan tangan ini merupakan implementasi nilai toleransi dan antikekerasan. Bayangkan, di tengah kompetisi dengan intensitas begitu tinggi, tidaklah sulit bagi seorang pemain untuk terbawa emosi saat terjadi benturan dengan lawan. Berbagai dorongan untuk menjadi egois atau bahkan membalas pelanggaran sering kali muncul. Namun, ketika seorang pemain memilih untuk meredam emosi, menekan ego, dan mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh, ia sedang mempraktikkan prinsip dasar moderasi beragama. Ia mengedepankan kemanusiaan di atas perselisihan.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

​Toleransi beragama tidak diartikan sebatas mengorbankan keyakinan, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan. Di lapangan futsal, berbagai perbedaan hadir dalam bentuk warna jersey, asal instansi, hingga latar belakang suku atau agama para pemain. Mengulurkan tangan kepada lawan yang jatuh diartikan sebagai penegasan bahwa, meski berada di pihak yang berbeda dalam sebuah pertandingan, kita tetap terikat oleh norma moral dan kemanusiaan yang sama. Lawan bertanding bukanlah musuh yang harus dihancurkan, melainkan kawan berolahraga yang saling membutuhkan untuk menciptakan permainan yang utuh.

​Jika berbicara lebih jauh, olahraga futsal menanamkan nilai komitmen kebangsaan melalui penghormatan terhadap aturan bersama. Lapangan hijau bertindak sebagai ruang inklusif tempat semua perbedaan identitas melebur di bawah naungan aturan main yang adil. Ketika peluit dibunyikan, setiap pemain tunduk pada aturan pertandingan tanpa memandang status sosial, agama, maupun latar belakang daerahnya. Kepatuhan pada kesepakatan bersama ini sejalan dengan cara warga negara yang moderat dalam menghormati hukum dan konsensus nasional demi menjaga ketertiban bersama.

​Di samping itu, pertandingan futsal sering kali menjadi arena ujian bagi sikap tawasut (berada di tengah-tengah) dan pengendalian diri. Di tengah cepatnya tensi permainan, gesekan fisik kecil sekalipun dapat dengan mudah memicu konflik yang lebih besar jika tidak disikapi dengan kepala dingin. Ketika para pemain cerdas dalam mengolah emosi, mengarahkan energi pada permainan yang bersih, serta menerima keputusan wasit dengan lapang dada, mereka sedang mengintegrasikan karakter moderat ke dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana belaka. Lapangan futsal kemudian dapat menjadi laboratorium sosial mini tempat kerukunan diuji dan dibentuk secara alami.

Baca juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Pembelajaran karakter berbasis lapangan seperti ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih membumi bagi generasi muda. Moderasi tidak selamanya harus disampaikan melalui narasi persuasif yang formal dan kaku. Lewat riuhnya sorak penonton dan dinamika di atas lapangan, peserta kompetisi secara tidak langsung dilatih untuk mengelola perbedaan pendapat, menghargai ruang hidup orang lain, serta menumbuhkan rasa empati terhadap kawan maupun lawan bertanding.

​Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam turnamen futsal bukanlah sekadar mengangkat piala. Kemenangan yang paling bermakna adalah ketika setiap individu mampu mengendalikan emosi, menghormati aturan permainan, dan menjaga rasa persaudaraan. Momen mengulurkan tangan kepada lawan yang terjatuh adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai moderasi beragama telah meresap ke dalam tindakan sehari-hari, serta membuktikan bahwa kedamaian dan toleransi bisa diukir dari hal-hal kecil di sekitar kita.