Mengenal Makna Tawazzun (Keseimbangan) dari Lapangan Bulu Tangkis PORSI JAWARA II

Penulis: Verantika Anggreani, Editor: Dwi Selma Fitriani

Ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) selalu sukses menyita perhatian publik. Dari sekian banyak cabang olahraga, bulu tangkis menjadi salah satu yang paling dinantikan, baik pada sektor tunggal maupun ganda. Di tengah ketatnya persaingan antar-PTKIN se-Jawa dan Madura, pertandingan sektor ganda senantiasa menyuguhkan keseruan tersendiri. Berbeda dengan nomor tunggal yang bertumpu pada kemampuan individu, sektor ganda menuntut kekompakan dan mengajarkan cara menyatukan dua kemampuan serta karakter yang berbeda. Menariknya, sinergi para atlet ganda ini turut merepresentasikan salah satu pilar penting dalam moderasi beragama, yakni tawazzun (keseimbangan).

Dalam permainan ganda, tawazzun tampak nyata dari cara para atlet membagi peran. Di atas lapangan, tidak ada ruang bagi ego pribadi atau hasrat untuk sekadar tampil menonjol sendirian. Ketika satu pemain maju ke depan net untuk menyongsong kok, pasangannya harus sigap menjaga garis belakang guna meredam serangan balik lawan. Jika keduanya tidak sinkron atau justru berebut posisi yang sama, benteng pertahanan tim dipastikan runtuh. Di titik inilah nilai keseimbangan bekerja; setiap pemain wajib menyadari tugasnya dan saling mengisi ruang kosong demi meraih kemenangan.

Lebih dari sekadar taktik permainan, nilai tawazzun juga benar-benar diuji dalam hal pengendalian emosi. Saat pertandingan berjalan alot, pasti ada momen ketika salah satu pemain melakukan kesalahan yang menguntungkan lawan. Pada situasi krisis seperti ini, reaksi sang tandem menjadi sangat krusial. Menyalahkan rekan setim hanya akan merusak mental bertanding. Sebaliknya, atlet yang matang akan menjaga keseimbangan psikologis tim dengan memberikan suntikan moral, menepuk punggung, atau sekadar melakukan tos untuk menenangkan suasana. Sikap saling menopang di bawah tekanan tinggi ini membuktikan bahwa keberhasilan tim tidak lahir dari sikap saling menghakimi, melainkan dari kedewasaan untuk saling menguatkan.

Baca juga: Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Pada praktiknya, manifestasi tawazzun tidak terbatas pada para atlet di arena, tetapi juga meluas hingga ke tribune penonton. Kehadiran suporter dari berbagai kampus PTKIN yang mendukung tim kebanggaannya turut menjadi ujian atas keseimbangan emosi bersama. Sorakan dan yel-yel yang menggema di gedung olahraga semestinya berfungsi sebagai motivasi positif, bukan alat untuk menjatuhkan mental lawan atau memicu provokasi. Saat para pendukung mampu menikmati pertandingan dengan tertib dan berlapang dada menerima hasil akhir, di situlah nilai tawazzun terwujud paripurna. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan iklim kompetisi yang sehat, damai, dan sarat akan solidaritas antarmahasiswa.

Lebih jauh lagi, dinamika interaksi dalam bulu tangkis ganda sejatinya merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kita tidak bisa hidup individualistis atau merasa paling dominan dengan mengabaikan eksistensi orang lain di sekitar. Layaknya dua atlet di satu lapangan, keberagaman budaya, latar belakang, dan pemikiran di tengah masyarakat menuntut adanya rasa saling percaya serta proporsi peran yang adil. Keseimbangan sosial hanya akan terwujud tatkala setiap individu bersedia meredam egonya demi memelihara kerukunan hidup bersama.

Baca juga: Menghargai Keberagaman Bakat Tanpa Menghakimi

Dengan demikian, kompetisi PORSI JAWARA melampaui sekadar urusan siapa yang berhak membawa pulang medali atau trofi juara. Lapangan bulu tangkis ganda telah mewariskan pelajaran berharga bahwa kemenangan sejati lahir dari rahim kerja sama, keseimbangan, dan rasa saling menghargai. Melalui medium olahraga, nilai-nilai moderasi beragama tidak lagi membeku sebagai konsep yang rumit, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata yang dapat kita pelajari, resapi, dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menerima Keputusan dan Menjaga Kebersamaan

Penulis: Roro Lintang Aningtyas, Editor: Dwi Selma Fitriani

Saat menonton suatu pertandingan, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah jalannya permainan, bukan? Siapa yang mendapat poin, siapa yang melakukan kesalahan, atau siapa yang akhirnya memenangkan pertandingan. Padahal, ada momen kecil yang justru menarik untuk dicermati, salah satunya ketika pemain tidak sepakat dengan keputusan wasit.

​Hal ini terjadi dalam pertandingan bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II yang diselenggarakan di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Saat pertandingan berlangsung, ada pihak yang mengajukan protes terhadap keputusan wasit. Protes tersebut diterima oleh wasit dengan baik. Wasit kemudian menjelaskan alasan mengapa keputusan itu diambil. Setelah mendengarkan penjelasan wasit, pihak tersebut akhirnya menerima keputusan yang diberikan.

​Sekilas, kejadian seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam pertandingan, protes terhadap keputusan wasit merupakan hal yang wajar. Pemain kerap melihat kejadian hanya dari sudut pandangnya, sementara wasit memiliki pertimbangannya sendiri. Namun, dari kejadian sederhana itu terdapat satu pelajaran menarik: tidak semua hal yang berjalan di luar harapan harus berakhir menjadi perselisihan.

Baca  juga: Seni, Sportivitas, dan Toleransi: Refleksi Moderasi Beragama dari Closing Ceremony PORSI JAWARA II UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

​Dalam konsep moderasi beragama, nilai yang berkaitan erat dengan hal tersebut adalah keadilan. Adil bukan berarti semua orang harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Adil lebih kepada menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melihat persoalan secara seimbang. Di lapangan, wasit memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan berdasarkan aturan permainan. Pemain tentu boleh merasa tidak setuju dan menyampaikan keberatan jika merasa ada keputusan yang kurang tepat. Hal itu merupakan bagian dari dinamika pertandingan. Akan tetapi, sebuah keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada siapa yang paling keras meluapkan protesnya.

​Kita memang kerap menganggap sesuatu tidak adil saat berada di pihak yang merasa dirugikan. Sebaliknya, jika keputusan itu menguntungkan, kita cenderung tidak mempersoalkannya. Pada pertandingan bola voli tersebut, pihak yang dirugikan sempat menilai keputusan wasit keliru, padahal mereka belum tentu memahami seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.

​Salah satu kuncinya terletak pada kerelaan untuk mendengarkan penjelasan wasit. Dalam pertandingan tadi, pihak yang memprotes tidak terus mempertahankan keberatannya setelah wasit memberi penjelasan secara jernih. Keputusan wasit pun akhirnya diterima. Dari sini terlihat bahwa menyampaikan ketidaksetujuan dan menerima keputusan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

​Sikap ini berakar pada nilai tasamuh atau toleransi. Toleransi memang kerap dikaitkan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, toleransi juga sangat dibutuhkan ketika kita berhadapan dengan orang yang berpandangan beda. Kita tidak perlu terburu-buru menganggap orang lain salah hanya karena sudut pandang yang tidak sejalan. Dalam pertandingan, setiap pemain memiliki perspektifnya, sedangkan wasit memiliki wewenang serta pertimbangannya. Perbedaan pandangan itu nyata, tetapi tetap bisa dijembatani secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan.

​Hal lain yang tidak kalah krusial adalah pengendalian emosi. Setiap pertandingan sarat dengan tensi tinggi. Saat berjuang mengejar kemenangan, keputusan yang dianggap merugikan tentu memicu kekecewaan. Namun, rasa kecewa inilah yang tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan maupun ucapan yang melukai. Di sinilah nilai antikekerasan hadir secara nyata. Keberatan boleh diutarakan, tetapi penyelesaiannya harus tetap melalui dialog. Dalam insiden tersebut, keberatan disampaikan, wasit memberi argumen, dan akhirnya keputusan dihormati. Persoalan selesai di tempat tanpa memicu perselisihan yang berlarut-larut.

​Sebagai mahasiswa, kita sering menemui dinamika serupa. Misalnya saat kerja kelompok, perbedaan pendapat hampir selalu mewarnai diskusi. Ada yang menginginkan tugas diselesaikan dengan metode tertentu, sementara anggota lain memiliki gagasan yang berbeda. Jika masing-masing bersikukuh merasa paling benar, kerja bersama justru akan jalan di tempat.

​Satu hal yang kerap terlupakan: menghargai orang lain bukan berarti harus selalu menuruti apa yang mereka mau. Kita tetap berhak mempertahankan pemikiran sendiri dan mempertanyakan hal yang dirasa kurang pas. Hanya saja, ada etika dan batasan yang perlu dijaga agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

​Dari laga bola voli putri pada ajang Porsi Jawara II ini, pelajaran berharga yang dipetik melampaui urusan kalah atau menang. Kita diajak belajar menyikapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi tanpa mengorbankan ikatan persaudaraan. Moderasi beragama sejatinya tidak selalu berkutat pada isu-isu besar; nilai-nilainya hadir dari peristiwa sederhana di sekitar kita setiap hari. Dari sebuah protes di lapangan voli, kita belajar tentang arti keadilan, penghargaan atas perbedaan, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Hidup memang tidak selalu berjalan seturut kehendak kita, tetapi kedewasaan kita diuji dari cara kita menyikapinya.