Mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan: Ketika Kemanusiaan Menjadi Mahkota Utama Beragama

Penulis: Salma Failasufa Editor: Dwi Selma Fitriani

Dinding kampus sering kali hanya dipandang sebagai pembatas fisik belaka. Namun, ada pemandangan istimewa di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sebuah mural Gus Dur yang digambarkan dengan senyum khasnya sukses mengajak siapa saja yang melintas untuk sejenak berhenti dan merenung. Karya seni ini bersanding dengan tulisan “Gus Dur for Humanity“. Pesan sederhana ini justru terasa krusial dan makin relevan di tengah dinamika masyarakat kita yang majemuk.

Kehadiran mural tersebut seolah menjadi pengingat bahwa agama bukanlah tembok pemisah antarindividu. Sebaliknya, nilai-nilai spiritualitas semestinya menumbuhkan kepedulian, penghormatan, dan sikap saling menjaga antarsesama. Dalam konteks ini, moderasi beragama menemukan makna esensialnya. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai slogan usang dalam seminar atau ruang kelas, tetapi harus mewujud dalam cara kita berpikir, berdiskusi, dan bersosialisasi dengan orang lain.

Langkah awal penerapan moderasi ini adalah tasamuh (toleransi). Sebagai wadah berkumpulnya kaum intelektual, kampus mempertemukan mahasiswa dengan asal daerah, budaya, pengalaman, dan sudut pandang yang heterogen. Perbedaan pendapat dalam diskusi, organisasi, maupun interaksi sehari-hari adalah keniscayaan. Tantangannya bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa meremehkan, berargumen tanpa memaksakan kehendak, serta menerima eksistensi orang lain merupakan wujud nyata toleransi yang bermakna luhur.

Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama

Selain itu, laku keberagamaan juga menuntut sikap tawassuth (mengambil jalan tengah atau bersikap proporsional). Identitas keislaman dan keindonesiaan tidak sepantasnya dibenturkan. Keduanya dapat berjalan selaras apabila agama diposisikan sebagai pedoman moral yang mempromosikan kebaikan sosial. Bersikap moderat bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan senantiasa mempertahankan akidah sembari tetap berpikiran terbuka terhadap realitas masyarakat yang plural.

Pesan kemanusiaan dari sosok Bapak Pluralisme tersebut juga menyinggung aspek ‘adl (keadilan). Menghargai manusia berarti mengakui hak dan martabat yang melekat pada setiap individu. Di lingkungan akademik, keadilan ini tecermin dari perlakuan setara tanpa memandang latar belakang, pemberian ruang berekspresi yang sama, serta penghindaran terhadap segala bentuk diskriminasi. Moderasi beragama niscaya kehilangan ruhnya jika toleransi hanya berhenti pada retorika, sementara ketidakadilan masih dibiarkan subur.

Lebih jauh lagi, kemanusiaan akan kerdil tanpa ta’awun (tolong-menolong dan kolaborasi). Beban kehidupan akan terasa berat jika hanya dipikul sendirian. Rasa empati terhadap kawan yang sedang kesulitan, sinergi dalam kegiatan kemahasiswaan, serta inisiatif saling membantu tanpa pandang bulu adalah manifestasi nyata dari semangat ini. Melalui tindakan-tindakan sederhana inilah, solidaritas dan rasa kebersamaan dapat tumbuh kembang.

Baca juga: Porsi Jawara II Hadirkan Kompetisi dalam Semangat Moderasi

Pada akhirnya, keberadaan mural Gus Dur seolah menantang para pengamatnya untuk tidak sekadar terkesima oleh keindahan visual sosok yang tergambar. Hal yang jauh lebih penting adalah aktualisasi semangat kemanusiaan tersebut dalam rutinitas harian (qudwah atau keteladanan). Menjalani moderasi beragama menuntut lebih dari sekadar pemahaman teoretis; ia harus termanifestasi dalam tindakan konkret. Adab berkomunikasi, cara menghormati sesama, seni mengelola konflik, dan kerelaan mengulurkan tangan merupakan bentuk keteladanan yang paling relevan saat ini.

Singkatnya, mural Gus Dur di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan bukanlah sekadar pajangan yang menghiasi area kampus. Karya tersebut adalah sebuah monumen pengingat agar kita tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaan di tengah situasi yang beragam. Tasamuh, tawassuth, ‘adl, ta’awun, dan qudwah bukanlah sekadar diksi akademis, melainkan prinsip hidup yang wajib diinternalisasi. Pesan “For Humanity” memikul makna fundamental: makin mendalam pemahaman agama seseorang, makin besar pula tanggung jawabnya untuk memuliakan martabat manusia. Pada hakikatnya, kedamaian dalam keberagaman tidak hanya diukur dari seberapa fanatik seseorang memeluk keyakinan, tetapi juga dari seberapa mulia akhlaknya saat bersinggungan dengan orang lain.