Antara Produktif dan Sibuk: Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Kesibukan?

Penulis: Rahmawati Arditia, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Di tengah kehidupan yang serba cepat, kesibukan sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Seseorang yang memiliki jadwal padat, banyak kegiatan, tugas yang menumpuk, dan berbagai pencapaian terkadang dipandang lebih produktif daripada orang yang memiliki waktu luang. Tidak jarang pula kita merasa bersalah ketika sedang beristirahat karena menganggap waktu tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Padahal, apakah seseorang yang terlalu sibuk benar-benar lebih produktif?

Sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Sibuk berarti seseorang melakukan banyak aktivitas, sedangkan produktif lebih berkaitan dengan seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Seseorang dapat menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan, tetapi belum tentu kegiatan tersebut penting atau memberikan manfaat. Sebaliknya, seseorang yang hanya menyelesaikan beberapa hal penting dengan baik justru dapat disebut lebih produktif. Oleh karena itu, ukuran produktivitas seharusnya bukan sekadar seberapa penuh jadwal kita, melainkan apakah waktu yang digunakan menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Dalam Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3. Allah bersumpah demi masa dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Baca juga: Doa Bersama Antarumat Beragama dalam Rangka Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan Tahun 2026

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah seberapa banyak aktivitas yang kita lakukan, melainkan bagaimana waktu digunakan. Banyaknya kegiatan tidak otomatis membuat hidup seseorang lebih bernilai. Waktu menjadi berarti ketika digunakan untuk keimanan, amal kebajikan, menuntut ilmu, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penggunaan waktu, Islam juga mengajarkan pentingnya niat. Aktivitas yang dilakukan seorang muslim tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian duniawi. Belajar, bekerja, membantu keluarga, dan melakukan kegiatan sosial dapat menjadi aktivitas yang bernilai jika dilakukan dengan tujuan yang baik. Dengan demikian, produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari niat dan manfaatnya.

Namun, mengejar produktivitas secara berlebihan juga dapat menjadi masalah. Kesibukan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang mengabaikan ibadah, keluarga, kesehatan, maupun kebutuhan untuk beristirahat. Padahal, istirahat tidak selalu berarti malas. Tubuh dan pikiran juga memiliki kebutuhan yang harus diperhatikan agar seseorang dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan manusia. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 6412. Oleh karena itu, produktivitas seharusnya berjalan bersama keseimbangan. Seorang muslim perlu memberikan waktu untuk belajar atau bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, bersosialisasi, dan beristirahat. Tidak semua waktu harus dipenuhi dengan aktivitas. Ada kalanya berhenti sejenak justru membantu seseorang kembali melakukan kewajibannya dengan lebih baik. Hal yang perlu dihindari bukanlah waktu luang, melainkan menyia-nyiakan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat.

Baca juga: Sampah Bukan Sekadar Masalah Lingkungan: KKN dan Wakaf Produktif sebagai Upaya Membangun Keberlanjutan

Hal ini menjadi penting bagi generasi muda. Banyak pelajar mengikuti berbagai kegiatan karena ingin berkembang, tetapi terkadang kesibukan tersebut justru dilakukan karena takut tertinggal dari orang lain. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kegiatan yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat? Apakah kita masih memiliki waktu untuk belajar dengan baik, beribadah, keluarga, dan beristirahat? Ataukah kita hanya ingin terlihat sibuk dan produktif?

Pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang dipenuhi sebanyak mungkin aktivitas, melainkan hidup yang waktunya digunakan untuk hal-hal yang bermakna. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengejar kesibukan tanpa batas. Islam mengajarkan agar waktu digunakan untuk keimanan, kebaikan, tanggung jawab, dan kemanfaatan. Maka, sebelum mengatakan “saya sangat sibuk”, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah kesibukan saya benar-benar membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik?” Sebab, produktif bukan tentang menjadi manusia yang paling sibuk, melainkan tentang menjadi manusia yang mampu menggunakan waktunya dengan bijaksana.

Sumber:

Kementerian Agama RI

Al-Qur’an Surah Al-‘Asr ayat 1–3

Sahih al-Bukhari No. 6412

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam: Berkata Baik atau Diam

Penulis: Marchella Dika Aristawidya, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Dalam kehidupan bermasyarakat, ucapan memiliki peran yang penting dalam membangun hubungan dengan sesama. Perkataan yang disampaikan dapat memberikan dampak yang besar terhadap perasaan seseorang. Berbeda dengan luka fisik yang dapat sembuh dalam waktu tertentu, luka yang disebabkan oleh perkataan terkadang dapat membekas dalam ingatan dan perasaan dalam waktu yang lama.

Kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi, mulai dari memilih kata yang tepat, memperhatikan intonasi, hingga menyesuaikan sikap dan gerak tubuh. Selain itu, memahami karakter serta latar belakang orang lain juga penting agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Dengan menjaga ucapan, kita dapat menghindari kesalahpahaman maupun perasaan tersinggung sehingga hubungan dengan sesama tetap terjaga dan tercipta kehidupan yang harmonis.

Ucapan dapat diibaratkan dua sisi mata pisau. Di satu sisi, perkataan yang baik dapat memberikan kebahagiaan dan menumbuhkan semangat bagi orang lain. Namun, di sisi lain, perkataan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan rasa sakit dan melukai perasaan seseorang. Pentingnya menjaga ucapan juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga lisan dan mempertimbangkan setiap perkataan yang akan disampaikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Baca juga: KKN Nusantara VI Kelompok 10 Edukasi Siswa SDN 1 Cibungur tentang Pentingnya Memilah Sampah

Hadis tersebut mengajarkan bahwa menjaga ucapan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah Swt. dan Hari Akhir. Rasulullah saw. mengingatkan umatnya untuk selalu berkata dengan baik, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti perasaan orang lain. Apabila tidak ada perkataan yang baik untuk disampaikan, sebaiknya seseorang memilih untuk diam. Sikap diam dalam keadaan tersebut lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan keburukan atau menyakiti orang lain.

Terkadang, ucapan yang bernada menyindir, meremehkan, atau menyinggung kekurangan seseorang dianggap sebagai candaan dan dinormalisasi. Padahal, tidak semua orang dapat menerimanya dengan cara yang sama. Sebelum berbicara, kita perlu mempertimbangkan perasaan orang lain agar perkataan yang disampaikan tetap sopan dan tidak meninggalkan luka di hati.

Baca juga: KKN Nusantara Kelompok 11 Tanamkan Kesadaran Kelola Sampah Sejak Dini dengan Gelar Sosialisasi 5R di SDN 1 Sangkanwangi

Anjuran untuk berkata baik juga dapat diterapkan ketika memberikan kritik dan nasihat. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak merendahkan sehingga orang yang menerimanya dapat memahami maksud yang disampaikan tanpa merasa disakiti. Dengan demikian, nasihat dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri, bukan justru menimbulkan perselisihan.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari perkataan yang menyakitkan, melainkan juga tentang membiasakan diri untuk menyampaikan ucapan yang baik dan bermanfaat. Setiap perkataan yang keluar hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan maupun luka di hati orang lain. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga berusaha menjalankan salah satu ajaran Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: rumaysho.com orami.co.id islam.nu.or.id