Belajar Moderasi Beragama dari Panggung MSQ PORSI JAWARA II

Penulis: Giyanti Rika Dwi Pratiwi, Editor: Dwi Selma Fitriani

Mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di tengah suasana perlombaan mungkin terlihat seperti hal yang biasa dalam sebuah kegiatan keislaman. Namun, bagi saya, lomba Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) dalam PORSI JAWARA II 2026 memiliki makna yang lebih dari sekadar ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Di balik penampilan peserta, terdapat pesan tentang bagaimana ajaran Al-Qur’an dapat disampaikan dengan cara yang santun, bijak, dan dapat diterima oleh masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

MSQ bukan hanya tentang kemampuan membaca atau menghafalkan ayat Al-Qur’an. Dalam perlombaan ini, peserta menyampaikan kandungan ayat melalui penjelasan yang dikemas secara terstruktur. Artinya, peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memahami materi keislaman, tetapi juga harus mampu menyampaikannya kepada orang lain dengan bahasa dan sikap yang tepat. Menurut saya, hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan moderasi beragama.

Salah satu nilai moderasi beragama yang dapat dilihat dari MSQ adalah tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah dan tidak berlebihan dalam memahami maupun menjalankan ajaran agama. Ketika menyampaikan pesan keagamaan, seseorang perlu menghindari cara penyampaian yang mudah menyalahkan atau merendahkan pihak lain. Pesan agama seharusnya disampaikan dengan bijaksana sehingga dapat menjadi jalan untuk memberikan pemahaman, bukan justru menimbulkan pertentangan.

Baca juga: Budaya yang Berbeda: Persatuan dan Persaudaraan dalam Perlombaan PORSI JAWARA II 2026

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kita melihat kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Perbedaan pemahaman, budaya, dan kebiasaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan nilai-nilai agama dengan bahasa yang santun menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang harmonis. Dari panggung MSQ, kita dapat belajar bahwa menyampaikan kebenaran tidak harus dilakukan dengan cara yang keras.

Selain cara menyampaikan pesan, lomba MSQ juga mengajarkan tentang kerja sama. Penampilan MSQ dilakukan secara berkelompok sehingga setiap anggota mempunyai peran masing-masing. Mereka harus mampu menyatukan suara, memahami materi, mengatur penampilan, dan saling mendukung agar penampilan dapat berjalan dengan baik. Perbedaan kemampuan di antara anggota kelompok tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Menurut saya, kerja sama tersebut juga merupakan bentuk kecil dari penerapan moderasi beragama. Dalam kehidupan sosial, kita tidak mungkin selalu bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan, pemikiran, atau kebiasaan yang sama. Kita perlu belajar menyesuaikan diri dan menghargai peran orang lain. Seperti halnya dalam MSQ, keberhasilan sebuah kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan semua anggota untuk saling melengkapi.

Hal menarik lainnya adalah adanya persaingan dalam suasana yang tetap membawa nilai-nilai keagamaan. Setiap peserta tentu ingin memberikan penampilan terbaik dan memperoleh hasil yang maksimal. Namun, semangat untuk menjadi juara seharusnya tidak membuat peserta kehilangan sikap saling menghargai. Peserta dapat berkompetisi dengan serius, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada peserta lain.

Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama

Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II berbeda dari perlombaan biasa. Hal yang dipertandingkan memang kemampuan setiap peserta, tetapi nilai yang dibawa jauh lebih luas. Peserta belajar bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap kepada sesamanya.

MSQ juga mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menyebarkan pemahaman agama yang damai. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat dapat menjadi contoh bagaimana nilai keagamaan diterapkan tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap orang lain. Terlebih pada era media sosial seperti sekarang, sebuah pesan dapat tersebar dengan sangat cepat. Oleh karena itu, kemampuan menyampaikan pesan agama secara bijak menjadi semakin diperlukan.

Pada akhirnya, bagi saya, pengalaman menyaksikan lomba MSQ dalam PORSI JAWARA II bukan hanya tentang melihat peserta tampil di atas panggung. Ada pelajaran yang dapat dibawa setelah perlombaan selesai: bahwa memahami agama juga harus diikuti dengan kemampuan menghargai manusia. Pesan Al-Qur’an akan menjadi lebih bermakna ketika disampaikan dengan sikap yang santun, tidak berlebihan, dan mampu merangkul perbedaan. Dari sebuah panggung perlombaan MSQ, kita dapat belajar bahwa menjadi moderat bukan berarti mengurangi nilai agama, melainkan justru menghadirkan nilai agama dalam kehidupan dengan cara yang bijaksana dan penuh penghormatan.