Satu Panggung, Beragam Logat: Wajah Moderasi Beragama di PORSI JAWARA II

Penulis: Nia Himatul Ulfa, Editor: Dwi Selma Fitriani

Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah se-Jawa dan Madura (PORSI JAWARA) II tahun 2026 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada 9-13 September akhirnya resmi ditutup. Lebih dari 1.495 mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura berkumpul untuk berkompetisi di berbagai cabang olahraga, seni, dan karya ilmiah. Di balik hitungan medali emas, perak, dan perunggu yang diperebutkan, kegiatan ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih substansial, yaitu perjumpaan lintas kampus, daerah, bahkan negara, yang sarat dengan nilai moderasi beragama.

Selama empat hari penyelenggaraan, lingkungan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan yang menjadi tuan rumah berubah menjadi ruang perjumpaan lintas kampus PTKIN se-Jawa dan Madura. Ribuan peserta yang hadir membawa logat bicara yang beragam: ada yang kental dengan dialek Jawa Tengah, ada yang membawa logat khas Madura, ada pula logat Sunda dari kontingen asal Bandung, hingga gaya bicara khas Jakarta Selatan yang bercampur istilah-istilah kekinian. Di antara keragaman tersebut, sesekali dijumpai pula peserta dari luar negeri yang kebetulan sedang menempuh studi di salah satu PTKIN peserta dan turut hadir bersama kontingen kampusnya, sehingga menambah warna dari perjumpaan lintas budaya ini.

Interaksi lintas logat dan bahasa semacam ini tidak selalu berjalan mulus. Terdapat momen ketika sebuah kalimat perlu diulang beberapa kali agar dapat dipahami lawan bicara. Sebaliknya, terdapat pula momen ketika seseorang harus menafsirkan maksud dari logat yang asing di telinganya. Kondisi ini menegaskan bahwa PORSI JAWARA tidak sekadar mempertemukan mahasiswa PTKIN se-Jawa dan Madura dalam pengertian administratif, tetapi juga menghadirkan keragaman bahasa dan budaya yang jauh lebih kaya dari yang semula dibayangkan.

Baca juga: Belajar Moderasi Beragama dari Debat Bahasa Inggris PORSI JAWARA II

Menariknya, di balik keragaman logat dan bahasa tersebut, terdapat satu benang merah yang menyatukan seluruh peserta, yaitu identitas bersama sebagai mahasiswa PTKIN. Identitas ini membawa nilai-nilai keislaman yang moderat sebagai muruah bersama. Dengan demikian, meskipun logat dan cara berbicara berbeda-beda, terdapat kerangka nilai yang relatif sama dalam memandang bagaimana seharusnya bersikap terhadap sesama. Kesamaan nilai inilah yang pada akhirnya mempermudah proses saling mengenal di antara peserta yang datang dari latar belakang kedaerahan yang berbeda-beda.

Dalam suasana kompetisi, perbedaan semacam itu berpotensi menimbulkan jarak apabila tidak disikapi dengan baik. Sejumlah momen menunjukkan bahwa semangat bertanding yang berlebihan dapat memunculkan sindiran atau ejekan antarkontingen. Hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian yang wajar dari dinamika kompetisi. Namun, apabila dibiarkan, kecenderungan tersebut berisiko mengaburkan esensi pertemuan yang sesungguhnya jauh lebih bernilai daripada sekadar hasil kalah-menang. Di sisi lain, terdapat fenomena yang berlawanan. Setelah pertandingan usai, pihak-pihak yang sebelumnya berhadapan sebagai lawan tanding tampak berbaur dan berbincang. Peserta dari kontingen yang berbeda-beda itu tampak akrab satu sama lain karena adanya rasa ingin tahu yang sama-sama muncul di antara mereka mengenai asal daerah, kebiasaan, hingga cara masing-masing menjalankan ibadah di tengah kesibukan kompetisi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan semata konsep normatif yang berhenti pada tataran wacana. Sikap menghargai pihak lain yang berbeda logat, bahasa, maupun kebiasaan; tidak berlebihan ketika meraih kemenangan; tidak merendahkan pihak yang kalah; serta tetap menjalin komunikasi meski baru saling mengenal dalam waktu singkat—semua itu tampak nyata dalam interaksi sehari-hari selama kegiatan berlangsung, bukan semata dalam forum seminar atau kajian keagamaan. Keragaman logat dan bahasa yang muncul dalam kegiatan yang secara administratif berlingkup “se-Jawa dan Madura” ini turut menegaskan bahwa perbedaan dapat hadir bahkan di antara daerah-daerah yang secara geografis relatif berdekatan. Selama terdapat kemauan untuk saling mengenal, jarak yang semula terasa jauh dapat dipersempit, dan hal yang semula asing dapat menjadi akrab.

Baca juga: Membangun Solidaritas Antarkampus Melalui Ajang PORSI JAWARA II pada Cabang Olahraga Bola Voli

Pemilihan UIN K.H. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah PORSI JAWARA II turut memberikan konteks yang relevan bagi keseluruhan gambaran ini. Nama besar yang disandang kampus tersebut, yang diambil dari sosok yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh toleransi di Indonesia, secara tidak langsung menjadi pengingat mengenai semangat apa yang seharusnya melandasi pertemuan lintas kampus semacam ini. Kompetisi yang berlangsung dengan sportif, tanpa menghilangkan sikap saling menghormati, sejatinya merupakan wujud paling sederhana dari nilai-nilai yang selama ini identik dengan nama tersebut. Dengan demikian, penyelenggaraan PORSI JAWARA II di kampus ini bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan dapat dibaca sebagai penegasan arah nilai yang ingin dihidupkan dalam kegiatan tersebut.

Keberhasilan PORSI JAWARA II sepatutnya tidak diukur semata dari jumlah medali yang diperoleh setiap kontingen, melainkan juga dari sejauh mana pihak-pihak yang bertemu dalam kegiatan tersebut tetap dapat menjalin komunikasi yang baik setelah kegiatan berakhir. Apabila perbedaan logat, bahasa, kampus, daerah, bahkan negara asal dapat dilalui tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh, kegiatan ini telah menjalankan fungsinya yang sesungguhnya, yaitu menumbuhkan generasi PTKIN yang memahami moderasi beragama bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sikap yang hidup dalam setiap pertemuan dengan mereka yang berbeda.