Penulis: Sabrina Maharani, Editor: Dwi Selma Fitriani
Sering kali, menjadi pemenang dipahami sebagai hasil dari bakat, usaha, dan strategi. Namun, satu hal yang sangat penting dan sering diabaikan adalah kebersamaan. Sebuah keberhasilan tidak selalu berasal dari individu yang paling unggul, melainkan dari mereka yang mampu menyatukan perbedaan dan bergerak ke arah tujuan yang sama. Semangat ini tidak hanya berlaku dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan keberagaman. Dalam hal ini, kebersamaan memiliki hubungan yang erat dengan sikap moderat dalam beragama.
Indonesia dikenal dengan berbagai agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Keberagaman ini adalah sebuah kekayaan yang patut disyukuri. Namun, pada saat yang sama, hal ini juga dapat menjadi tantangan. Ketidakharmonisan manusia dalam menghadapi perbedaan dapat menyebabkan prasangka negatif, konflik, bahkan perpecahan. Oleh karena itu, sikap moderasi dalam beragama menjadi sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang baik. Moderasi dalam beragama mengajarkan kita semua untuk menjalankan keyakinan dengan baik dan tidak lupa menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.
Nilai-nilai tersebut sebenarnya bisa kita temukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berkompetisi. Salah satunya dalam pertandingan olahraga tim, setiap atlet memiliki keahlian dan perannya masing-masing. Ada yang andal dalam menyerang, bertahan, merancang strategi, atau memberikan dukungan kepada rekannya. Perbedaan inilah yang seharusnya tidak menghalangi tim untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, ketika setiap anggota saling menghargai dan melengkapi, sebuah tim akan menjadi lebih kokoh.
Baca juga: Bukan Sekadar Juara: PORSI JAWARA II dalam Semangat Persaudaraan dan Moderasi Beragama
Hal tersebut berkaitan erat dengan moderasi beragama. Kejuaraan yang sesungguhnya bukan hanya tentang mendapatkan medali atau piala. Kejuaraan dapat dimaknai sebagai keberhasilan dalam membangun persatuan dan menciptakan lingkungan yang damai serta harmonis. Ketika seseorang mampu bekerja sama dengan orang lain, ataupun dalam tim, mereka telah menunjukkan sikap moderat dalam kehidupan nyata.
Kebersamaan juga mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam sebuah kelompok, perbedaan kemampuan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi. Begitu pula dalam kehidupan beragama. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan toleransi, sikap saling menghargai, dan komunikasi yang baik. Kebersamaan juga dapat dimulai dari lingkungan kampus, misalnya pada perlombaan olahraga, seni, dan ilmiah yang diselenggarakan oleh PORSI JAWARA II pada tahun 2026. Mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Jawa hingga Madura, hadir dengan latar belakang dan pengalaman hebat yang berbeda-beda. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk membentuk kelompok yang saling menjauh. Sebaliknya, mahasiswa dapat bekerja sama dalam kegiatan ini tanpa menjadikan perbandingan atau persaingan yang mencolok dalam pertandingan.
Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus selalu diselesaikan dengan perdebatan. Ada kalanya perbedaan perlu disikapi dengan mendengarkan, tidak harus selalu memenangkan pendapat sendiri. Terkadang, kemenangan yang lebih besar justru terjadi ketika kita mampu mengesampingkan ego demi kepentingan bersama. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara, tetapi juga kemauan untuk mendengarkan dan memahami. Moderasi beragama menjadi jembatan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan moderasi, seseorang dapat tetap teguh terhadap keyakinannya sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Dengan bersatu, kita belajar menerima keberadaan orang lain; dengan kerja sama, kita mengubah perbedaan menjadi kekuatan; dan dengan kebersamaan, tujuan yang sebelumnya sulit untuk dicapai dapat diwujudkan.
Oleh karena itu, ungkapan “kebersamaan membawa kejuaraan dengan berlandaskan moderasi beragama” seharusnya tidak hanya menjadi sebuah kalimat di suatu perlombaan, tetapi dapat dijadikan prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi. Moderasi beragama menjadi jembatan yang menyatukan berbagai perbedaan untuk tetap berada dalam semangat persatuan. Pada akhirnya, komunitas yang tangguh bukanlah komunitas yang bebas dari perbedaan, melainkan komunitas yang terbiasa saling berkolaborasi, menyelesaikan perbedaan dengan jalan musyawarah, serta saling menghormati. Kita tidak hanya memiliki kesempatan untuk meraih kemenangan dalam suatu perlombaan, tetapi juga memiliki kesempatan besar untuk meraih tujuan yang lebih luas: menciptakan kehidupan yang damai dan selaras. Sebab, juara sejati adalah mereka yang tidak hanya berhasil mengalahkan lawan, tetapi juga mampu menang tanpa mengorbankan rasa persatuan.
