Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Dwi Selma Fitriani
Di tengah masyarakat majemuk, ada satu kebiasaan yang sudah mengakar begitu lama: mengukur kualitas seseorang hanya dari satu tolok ukur, yaitu prestasi akademik. Nilai rapor tinggi, juara olimpiade, atau gelar akademis kerap dijadikan patokan utama untuk menilai siapa yang “berhasil” dan siapa yang “biasa saja”. Padahal, kehidupan nyata jauh lebih kompleks dari sekadar angka di atas kertas.
Dalam sebuah wawancara, seorang narasumber menyampaikan refleksi sederhana, tetapi mendalam. Tidak semua orang pintar di bidang akademik, tetapi banyak yang justru berbakat di ranah non-akademik, entah itu seni, olahraga seperti silat, organisasi, atau keterampilan lain yang jarang mendapat sorotan. Ia menegaskan bahwa dalam kehidupan nyata, tidak semuanya harus mengandalkan akademik semata. Ada banyak pegangan atau kekuatan lain yang sama pentingnya untuk menopang kehidupan bermasyarakat.
Pernyataan ini, jika direnungkan lebih jauh, sesungguhnya bukan sekadar curahan pengalaman pribadi. Hal tersebut menyimpan pesan yang sangat relevan dengan salah satu nilai penting dalam moderasi beragama, bahwa memaksakan satu standar keunggulan sebagai satu-satunya ukuran kebenaran atau kesuksesan adalah cara pandang yang tidak seimbang, bahkan berpotensi bertentangan dengan prinsip keseimbangan hidup yang diajarkan agama.
Baca juga: Mengajar Toleransi Lewat Peluit Futsal di Atas Lapangan Hijau
Fakta bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan dan kemampuan yang berbeda-beda bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sunatullah, hukum alam yang sengaja diciptakan agar kehidupan berjalan dengan seimbang. Ada yang unggul dalam logika dan hitungan, ada yang lihai dalam seni dan estetika, ada pula yang tangguh secara fisik dan mental sehingga menonjol di bidang olahraga. Semua ini adalah bentuk keberagaman yang seharusnya dirayakan, bukan dipertentangkan.
Di sinilah nilai tasamuh atau toleransi menemukan relevansinya yang paling mendasar. Dalam konteks moderasi beragama, tasamuh bukan hanya berbicara tentang toleransi antarumat beragama, melainkan juga tentang sikap saling menghargai perbedaan dalam jangkauan yang lebih luas, termasuk perbedaan potensi dan bakat antarindividu. Moderasi beragama mengajarkan kita untuk tidak menghakimi nilai atau harkat seseorang hanya dari satu sudut pandang yang sempit.
Ketika seorang anak lebih menonjol dalam seni lukis dibandingkan matematika, atau seorang remaja lebih bersinar di atas panggung debat organisasi dibandingkan di ruang ujian, itu bukan berarti ia memiliki nilai yang lebih rendah sebagai manusia. Menghormati perbedaan bakat semacam ini sesungguhnya sama halnya dengan menghargai keberagaman ciptaan Allah Swt.
Baca juga: Semarak Pembukaan PORSI JAWARA II 2026: Arena Kompetisi sebagai Wadah Nyata Moderasi Beragama
Poin kedua yang tak kalah penting dari refleksi wawancara tersebut adalah pernyataan bahwa tidak semua hal di kehidupan nyata mesti mengandalkan akademik. Pernyataan ini membuka mata kita pada satu kenyataan sederhana: dunia tidak dijalankan oleh satu jenis peran saja. Seorang dokter memang dibutuhkan, tetapi begitu pula petani, seniman, atlet, perajin, dan penggerak organisasi masyarakat. Semua peran ini saling melengkapi dan menopang keberlangsungan hidup bersama.
Konsep ini selaras betul dengan prinsip tawazun atau keseimbangan, salah satu pilar utama dalam moderasi beragama. Tawazun mengajarkan pentingnya sikap pertengahan, tidak berat sebelah, dan tidak ekstrem dalam memandang segala hal, termasuk dalam menilai jalan hidup dan pencapaian seseorang. Moderasi beragama menekankan bahwa keseimbangan bukan hanya soal ibadah dan muamalah, melainkan juga soal cara kita memandang kontribusi manusia dalam kehidupan sosial.
Coba bayangkan jika seluruh anggota masyarakat dipaksa menjadi akademisi. Siapa yang akan mengurus pertanian, mengembangkan seni budaya, menjaga tradisi bela diri, atau menggerakkan roda organisasi kemasyarakatan? Sektor-sektor tersebut akan lumpuh karena kehilangan tenaga dan semangat dari mereka yang justru memiliki keahlian di bidang itu. Masyarakat yang harmonis justru lahir dari keseimbangan antara dunia akademik dan dunia non-akademik. Keduanya bukan kompetitor, melainkan dua bidang yang sama-sama dibutuhkan.
Sayangnya, kita masih sering menyaksikan budaya labeling yang timpang. Anak-anak yang berprestasi secara akademik kerap ditempatkan pada posisi yang lebih terhormat, sementara mereka yang unggul di bidang non-akademik dipandang sebelah mata, seolah-olah pencapaiannya “kurang bergengsi”. Sikap superioritas semacam ini, jika dibiarkan, akan menumbuhkan rasa rendah diri pada anak-anak berbakat non-akademik, padahal bakat mereka sama sekali tidak kalah berharga.
Sikap seperti ini, dalam kacamata moderasi beragama, dapat disejajarkan dengan sikap berlebih-lebihan dan fanatik terhadap satu pandangan sambil merendahkan pandangan lain. Sebagaimana moderasi beragama secara tegas menolak kebenaran sepihak yang menyisihkan kelompok lain, sistem penilaian terhadap manusia pun semestinya tidak boleh merendahkan satu jalur prestasi demi mengagungkan jalur lainnya.
Oleh karena itu, akademik dan non-akademik bukanlah dua bidang yang harus dipertentangkan, melainkan dua unsur yang saling melengkapi dalam menopang keberlangsungan kehidupan bersama. Seorang ilmuwan membutuhkan seniman untuk memperindah dunia yang ia teliti, dan seorang atlet membutuhkan sistem pendidikan yang baik untuk memahami strategi dan kesehatan tubuhnya. Keduanya berjalan beriringan, bukan berlomba untuk saling mengungguli.
Nilai-nilai moderasi beragama seperti tawazun, tasamuh, dan penolakan terhadap sikap fanatik sesungguhnya mengajarkan kita satu hal yang sangat sederhana, tetapi sering terlupakan: keberagaman potensi manusia adalah anugerah, bukan masalah yang harus diseragamkan. Menerapkan nilai moderasi beragama tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar dan rumit. Hal ini bisa dimulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yaitu memandang dan menghargai setiap individu dengan adil.
Sudah saatnya kita berhenti menempatkan satu jenis prestasi di atas takhta, sementara jenis prestasi lainnya dipandang sebelah mata. Sebab, pada hakikatnya, dunia ini dibangun bukan oleh keseragaman, melainkan oleh harmoni dari perbedaan yang saling melengkapi.
