Menanam Masa Depan di Sela Akar Bakau: Karena Manusia dengan Edukasi Jauh Lebih Bermakna

Penulis: Nahla Asyfiyah, Editor: Dwi Selma Fitriani

Di tengah gempuran modernitas dan kecemasan global terhadap krisis lingkungan, sekolah formal sering kali kebingungan untuk mengajarkan siswa-siswi tentang pelestarian lingkungan. Mereka sekadar menghafal definisi “pelestarian” dari teori yang diajarkan, bukan dari peran aktif siswa. Di sisi lain, dunia pariwisata menjadi tujuan utama para konten kreator media sosial yang terkadang meninggalkan jejak kerusakan pada alam itu sendiri. Di titik jenuh inilah, gagasan mengenai ekowisata atau wisata berbasis edukasi hadir bukan lagi sebagai alternatif, melainkan sebagai sebuah kebutuhan baru.

Salah satu manifestasi nyata dari kesadaran ini lahir di pesisir melalui kehadiran Sekolah Mangrove di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Berawal dari sekadar sarasehan dan ruang kumpul swadaya kelompok tani, ruang ini bertransformasi menjadi ekowisata minat khusus yang secara spesifik berfokus pada rehabilitasi lingkungan. Tempat ini bukan sekadar destinasi untuk berswafoto di atas jembatan kayu, melainkan laboratorium hidup tempat anak-anak usia dini, siswa sekolah dasar, hingga mahasiswa belajar mengenai ekosistem pesisir.

Menanamkan kepedulian lingkungan jauh lebih baik jika dimulai sejak usia dini. Kehadiran Sekolah Mangrove telah terbukti melampaui batas wisata konvensional dengan menjadi ruang internalisasi nilai-nilai konservasi. Esensi dari gerakan ini bukanlah seberapa banyak pohon bakau yang berhasil ditanam di lokasi wisata, melainkan seberapa dalam nilai-nilai tersebut terbawa pulang oleh anak-anak ke rumah dan sekolah mereka masing-masing. Tempat wisata hanyalah hamparan benda mati jika tanpa sentuhan pengetahuan; karena manusia dengan edukasi akan jauh lebih bermakna.

Sekolah Mangrove di Desa Mulyorejo awalnya hanya berupa kegiatan sarasehan atau berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar mengenai pelestarian lingkungan. Keberadaannya kini berperan penting dalam tumbuh kembang anak-anak. Berinteraksi langsung dengan alam, seperti menanam bakau dan mengamati ekosistem secara langsung, memberikan dampak psikologis yang jauh lebih kuat dan membekas pada anak-anak dibandingkan sekadar membaca buku teks.

Dalam sudut pandang Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, umat ditegaskan untuk senantiasa menjaga lingkungan demi kemaslahatan di bumi. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun Muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya” (HR Bukhari).

Dengan demikian, mangrove memiliki peranan krusial dalam melindungi pantai dari erosi, menyerap gas karbon, dan menyediakan tempat tinggal bagi kehidupan laut. Mangrove juga berkontribusi pada perekonomian masyarakat pesisir serta menjaga kebersihan air laut. Selain itu, Sekolah Mangrove memperkenalkan jenis-jenis mangrove yang biasa dibudidayakan, di antaranya yaitu Rhizophora (bakau), Avicennia (api-api), Sonneratia (pedada/bogem), dan Bruguiera (lindur/tanjang). Keempat jenis mangrove ini sukses mendorong rasa penasaran pengunjung, terutama anak-anak.

Pengajaran di Sekolah Mangrove telah membawa manfaat baik bagi pengunjung. Adanya edukasi tentang pelestarian lingkungan dan praktik langsung menanam dengan benar diharapkan dapat menjadi kebiasaan di sekolah atau di rumah masing-masing. Sekolah Mangrove juga memberikan pengalaman berharga tentang bagaimana masa depan bumi seharusnya dirawat. Tempat ini membuktikan bahwa investasi terbaik dalam isu konservasi lingkungan bukanlah teknologi yang mahal, melainkan pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia mengemban tugas sebagai khalifah (pemimpin dan pemelihara) di bumi. Oleh karena itu, kita harus kembali meyakini prinsip mendasar yang lahir dari ketulusan akar rumput ini: bahwa bentang alam seluas apa pun akan menjadi sia-sia jika manusia yang berpijak di atasnya abai, karena hanya manusia dengan edukasi yang akan membuat semesta ini jauh lebih bermakna.

Menjaga Bumi sebagai Amanah: Mulyorejo Festival 2026 Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir

Penulis : Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah

Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui slogan dan kampanye. Kesadaran tersebut yang sedang dibangun melalui Mulyorejo Festival 2026 di Desa Mulyorejo, Jumat (29/05). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan untuk merespons berbagai persoalan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir.

Baca juga: Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam

Muhammad Abdul Razak, selaku Marketing dan Admin Media Sosial Mangrove Mulyoasri, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan yang berkembang di sekitar desa. Menurutnya, pemerintah desa ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghijauan di wilayah tempat tinggal mereka.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, baik menjaga kebersihan maupun melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan dimulai pada pagi hari, dengan kerja bakti yang melibatkan warga Desa Mulyorejo. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup yang mereka tempati. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir dan malam hari seremonial dengan menyuguhkan live music dan sharing session.

Penanaman mangrove diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lingkungan, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan seperti UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Pekalongan, dan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tercatat sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan melalui pendaftaran resmi, ditambah sekitar 37 peserta dari kalangan pelajar madrasah tsanawiyah. Adapun materi edukasi lingkungan disampaikan oleh Ki Suryo Joko Carito, SP. dari Pemalang.

Di balik kegiatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar yang sedang dihadapi masyarakat pesisir, yakni abrasi dan penurunan muka tanah yang terus mengancam kawasan pantai utara. Razak menilai bahwa penanaman mangrove menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Di daerah pesisir, peningkatan abrasi sangat luar biasa. Dengan adanya penghijauan dan menjaga lingkungan, diharapkan dapat meminimalisir penurunan tanah serta memperlambat laju abrasi di kawasan pesisir utara,” katanya.

Semangat yang dibawa dalam Mulyorejo Festival juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah atau penjaga bumi. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut sering kali merupakan akibat dari tindakan manusia sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Meski, keberhasilan festival ini tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau bibit mangrove yang ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kesadaran tersebut terus hidup setelah acara berakhir. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah apakah kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi budaya sehari-hari masyarakat, atau justru berhenti sebagai agenda tahunan semata. Dengan demikian, Mulyorejo Festival tidak hanya menjadi perayaan lingkungan, tetapi juga momentum refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga alam untuk generasi yang akan datang.