Penulis: Luthfi Maulana, Editor: Muslimah
Mahasiswa baru UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menghadiri acara kuliah umum kebangsaan yang dilaksanakan di Gedung Student Center UIN Gus Dur, Jum’at (18/9/2026). Kuliah umum kebangsaan ini mengusung tema Merawat Kebhinekaan, Mengukuhkan Kemanusiaan, untuk Indonesia yang Humanis.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran para petinggi kampus serta menghadirkan narasumber utama K.H. Miftah Maulana Habiburrohman selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Kepresidenan bidang Kerukunan Beragama dan Pembinan Sarana Keagamaan. Menurut Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M. Ag., kehadiran Gus Miftah diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan mengenai aspek kebhinekaan melalui pengalaman-pengalaman yang dimiliki.
“Mahasiswa yang hadir pasti akan sangat beruntung karena akan dapat wawasan yang luas dari Gus Miftah juga mendapatkan perspektif yang berbeda terkait tema yang kita angkat,” ujarnya dalam sambutan.
Lebih lanjut ia menjelaskan, terdapat tiga kata kunci yang menjadi poin utama dalam kuliah kebangsaan kali ini, yakni merawat kebhinekaan, mengukuhkan kemanusiaan, dan Indonesia humanis. Kebhinekaan yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia sudah seyogyanya dijaga bersama dengan penuh kesadaran. Kebhinekaan tersebut tidak bisa hanya dipandang dalam satu perspektif saja karena keragaman. Lebih dari itu, kebhinekaan tersebut seharusnya menjadi pemersatu bangsa terciptanya Indonesia yang harmonis.
Selanjutnya, kata kunci mengukuhkan kemanusiaan sebagai pengejawantahan dari nilai tauladan Gus Dur. Menurut Rektor UIN Gus Dur, membawa nama besar Gus Dur pada kampus berarti memiliki nilai yang sama dengan Gus Dur sebagai teladan. Aspek tersebut juga diharapkan tidak hanya menjadi retorika, namun menjadi nilai yang tumbuh dalam diri individu.
“Gus Dur adalah pembela kemanusiaan, oleh sebab itu kita harus sama dengan Gus Dur, apa yang diajarkan oleh Gus Dur, nilai-nilai gusdurian, keadilan, membela yang lemah, toleransi, nir kekerasan, saling menghargai dan sebagainya. Harus menjadi teladan bagi kita semua.”
Nilai kemanusiaan tersebut diharapkan mewujudkan kedamaian dalam Indonesia yang humanis. Menurutnya, Indonesia yang humanis ialah Indonesia yang memanusiakan manusia.
“Tidak ada satupun manusia yang hina di dunia ini karena sebetulnya semua makhluk adalah makhluk Allah.” tambahnya dalam sambutan.
Dengan berfokus pada tiga poin tersebut, Gus Miftah dihadirkan untuk memberikan pemahaman mengenai pluralitas kemanusiaan yang terjadi di Indonesia melalui pengalaman-pengalamannya. Mahasiswa diharapkan mampu memahami bagaimana kondisi nyata aspek kebhinekaan yang terjadi pada situasi sosial kemasyarakatan di Indonesia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pemupuk nilai-nilai moderasi beragama yang perlu dimiliki oleh para mahasiswa baru sebagai penerus nilai-nilai ajaran Gus Dur. Dengan semangat moderasi beragama yang dimiliki oleh Gus Dur, para mahasiswa diharapkan menerapkan aspek-aspek keadilan, toleransi, dan saling menghargai terhadap sesama sebagai implementasi nyata mereka dalam kehidupan.
