Nama: Marchella Dika Aristawidya, Editor: Muslimah
Pernahkah kita membuka media sosial, lalu melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, nongkrong di tempat yang sedang viral, atau mengikuti tren terbaru? Awalnya hanya ingin melihat-lihat, tetapi tanpa sadar muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama. Padahal, sebelumnya kita tidak terlalu membutuhkan hal tersebut. Perasaan takut tertinggal dari orang lain inilah yang sering disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO menjadi salah satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Media sosial membuat kita dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Kita melihat pencapaian, gaya hidup, perjalanan, hingga kebahagiaan orang lain melalui layar. Akibatnya, terkadang kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain.
Baca juga: Ketika Spiritualitas Tak Perlu Dipamerkan: Belajar Esensi Waisak dari Aliran Theravada
Misalnya, ketika melihat teman membeli pakaian baru, kita ikut ingin membeli. Ketika ada tempat makan yang sedang viral, kita merasa harus mencobanya. Bahkan, ketika melihat teman-teman berkumpul tanpa kita, muncul perasaan takut ketinggalan momen. Padahal, belum tentu semua hal yang dilakukan orang lain memang kita butuh kan.
Di sinilah konsep qanaah dalam Islam menjadi menarik untuk direnungkan. Qanaah dapat dipahami sebagai sikap merasa cukup terhadap apa yang telah diberikan Allah Swt., disertai dengan rasa syukur dan tetap berusaha. Qanaah bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki keinginan atau bercita-cita. Sebaliknya, kita tetap boleh berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik, tetapi tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran kebahagiaan kita. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa rasa syukur memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang muslim. Ketika kita terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, kita bisa lupa memperhatikan nikmat yang sebenarnya sudah kita miliki.
Menurut saya, FOMO tidak selalu buruk. Keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika FOMO membuat kita kehilangan kendali. Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap ketinggalan. Kita pergi ke suatu tempat bukan karena ingin menikmati pengalaman, tetapi hanya karena ingin mengunggahnya ke media sosial. Bahkan, terkadang kita memaksakan diri hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara kita memandang kebahagiaan. Kita mulai menganggap bahwa bahagia berarti memiliki barang terbaru, pergi ke tempat tertentu, atau mendapatkan banyak perhatian. Padahal, kebahagiaan tidak selalu harus terlihat di media sosial.
Qanaah mengajarkan kita untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Bukan berarti kita harus berhenti memiliki impian, tetapi kita belajar menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha mencapai sesuatu yang lebih baik. Kita boleh ingin memiliki ponsel baru, tetapi tidak perlu merasa rendah diri hanya karena ponsel kita berbeda dengan milik teman. Kita boleh ingin berlibur, tetapi tidak perlu merasa kehidupan kita gagal hanya karena belum bisa mengunjungi tempat yang sedang viral.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan. Kita hanya melihat bagian yang ingin ditampilkan, bukan seluruh cerita di baliknya.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri sebelum mengikuti sesuatu, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Menjadi qanaah di tengah budaya FOMO memang tidak mudah. Kita hidup di zaman ketika tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Namun, bukan berarti kita tidak bisa belajar untuk merasa cukup. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menggunakan media sosial dengan bijak, dan memperbanyak rasa syukur dapat menjadi langkah sederhana untuk melatih qanaah.
Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain untuk merasa bahagia. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua hal yang viral harus dimiliki. Sebab, terkadang kebahagiaan bukan tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang belajar menghargai apa yang sudah ada.
Jadi, ketika FOMO mulai muncul, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mengingat kembali qanaah. Bukan karena kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi karena kita tidak ingin kehilangan rasa syukur hanya demi mengejar apa yang dimiliki orang lain.
