Tantangan Kehidupan Mahasiswa Muslim di Kota Nanjing, Cina

Penulis: Ahmad fawwaz rizka, Editor: Nehayatul Najwa

Kehidupan sebagai mahasiswa muslim di Nanjing, Cina merupakan perpaduan antara tantangan dalam menjaga identitas keagamaan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial yang majemuk. Sebagai salah satu kota besar di China dengan sejarah panjang dan populasi yang beragam, Nanjing menawarkan pengalaman yang unik bagi mahasiswa muslim, baik lokal maupun internasional.

Di tengah keberagaman tersebut, Nanjing memiliki beberapa komunitas religi yang aktif sampai sekarang. Contohnya adalah Komunitas muslim etnis Hui, salah satu kelompok etnis minoritas muslim yang diakui di Cina. Terdapat beberapa masjid bersejarah, seperti masjid jingjue yang dibangun pada abad ke 14 dengan arsitektur Cina kuno yang khas, membuatnya menjadi pusat kegiatan keagamaan. Mahasiswa muslim dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk salat berjamaah atau merayakan hari besar islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Tampak Depan Masjid Jingjue (Sumber: Wikipedia.org)

Salah satu tantangan utama bagi mahasiswa muslim di Nanjing adalah menemukan makanan halal. Meskipun tidak sebanyak di kota-kota besar seperti Beijing dan Xi’an, Nanjing memiliki restoran halal yang dikelola oleh komunitas etnis Hui. Beberapa kampus juga sudah mengantisipasi hal ini dengan menyediakan kantin khusus muslim dan menu halal. Namun, mahasiswa sering kali harus lebih teliti dalam memilih makanan, atau dengan cara mudahnya yakni memasak sendiri untuk memastikan kehalalannya. Biasanya masakan halal ditandai dengan penjual yang memakai peci khas Uyghur dan kata “清真菜” (qingzhencai) di atas papan nama restoran.

Baca juga: Batik Sebagai Simbol Moderasi Beragama (Studi Kasus Fenomena Batik Tiga Negara)

Restoran Halal di Nanjing (Sumber: thenanjinger.com)

Meskipun mahasiswa muslim diperbolehkan beribadah, pemerintah Cina mengatur kegiatan keagamaan secara ketat. Aktivitas keagamaan dan hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha harus terorganisir dan sesuai dengan peraturan setempat. Contohnya, untuk salat Ied, calon jamaah diwajibkan memindai Qr Code yang disediakan oleh pengurus masjid).

Sebagai mahasiswa di Nanjing, integrasi dengan budaya lokal menjadi bagian penting dari pengalaman hidup. Terlebih, Nanjing adalah salah satu kota yang memiliki nilai historis dan budaya yang panjang. Banyak mahasiswa muslim belajar bahasa mandarin dan berpartisipasi dalam kegiatan kampus maupun luar kampus untuk membangun jalinan pertemanan. Namun, mereka juga harus menjaga keseimbangan antara nilai-nilai Islam dan norma sosial setempat, khususnya dalam hal pergaulan dan gaya hidup.

Meskipun Nanjing relatif lebih terbuka dibandingkan wilayah lain di China dikarenakan banyaknya mahasiswa, mahasiswa muslim terkadang menghadapi tantangan seperti stereotip atau kurangnya pemahaman masyarakat tentang Islam. Beberapa mahasiswa memilih untuk lebih rendah profil dalam mengekspresikan keyakinanya demi menghindari prasangka. Bahkan beberapa kampus juga menyarankan agar tidak berpakaian serba hitam seperti jubah & kerudung untuk menghindari prasangka.

Kehidupan mahasiswa muslim di Nanjing membutuhkan adaptasi dan ketahanan dalam menjaga identitas keagamaan di tengah lingkungan yang sekuler. Namun, dengan dukungan komunitas muslim setempat dan kemauan untuk terlibat dalam kehidupan kampus, mereka bisa menjalankan studi dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Islam.