Penulis: Atika Puspita Rini, Editor: Muslimah
Pekalongan — Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Rasul menyelenggarakan Misa Sura pada Senin (15/6), sebuah perayaan liturgi yang memadukan tradisi Katolik dengan kearifan lokal nilai-nilai Jawa. Acara ini dihadiri puluhan umat dari berbagai usia dan latar belakang, serta tokoh masyarakat setempat.
Misa Sura, yang digelar setiap tahunnya menjelang Tahun Baru Jawa, menerapkan serangkaian ibadat liturgis yang tetap berpegang pada tata Gereja Katolik namun menggabungkan nilai-nilai budaya Jawa. Dalam melihat maknanya, Sartono, selaku Panitia acara menekankan pentingnya harmoni antara iman dan budaya lokal.
“Menjadi Katolik tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru dalam Katolik, kita mengartikan budaya kristus, yaitu dengan menggunakan budaya jawa, ” ujarnya.
Salah satu momen khas pada Misa Sura ini adalah pembacaan doa syukur yang dilantunkan dengan iringan gamelan serta tembang berbahasa Jawa. Umat mengenakan pakaian batik dan kebaya sebagai bentuk kentalnya tradisi nilai-nilai jawa yang terkandung dalam Misa kali ini.
Tak hanya itu, ada juga iring-iringan gunungan hasil bumi dari masyarakat yang nantinya dibagikan kembali, setelah diberi percikan air suci yang sudah di doakan oleh pastor.
Dalam pemaknaan Misa Sura Ekaristi sendiri, pastor Teguh memberikan pemaknaan mengenai bagaimana sebagai katolik dan sekaligus sebagai orang jawa.
“Dalam malam satu suro ini gereja mengajak untuk kembali menjadi hakekatnya orang jawa. Dan kemudian disatukan dengan nilai-nilai kristiani. Karena kita hidup dan tinggal diajak, yang mendapat ajaran dari leluhur dan orang tua kita,” ujarnya.
Puncaknya para umat katolik menerima komuni (tubuh kristus dalam bentuk Hosti), yang menjadi arti bahwa umat adalah bagian dari gereja dan dipersatukan dengan Tuhan sebagai pengampunan dosa. Kegiatan Misa Sura diakhiri dengan doa bersama untuk perdamaian, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Panitia juga mengimbau agar bentuk-bentuk inkulturasi budaya dalam ibadat dijalankan dengan tetap menghormati norma liturgi dan otoritas gereja.
