Penulis : Putik Alifamarza, Editor : Amarul Hakim
Di zaman ini, di mana sekali sentuhan jari bisa menggoyahkan ruang publik, kebenaran terasa semakin sulit ditemukan. Kini, yang diukur bukan lagi keakuratan, melainkan seberapa cepat sebuah berita tersebar. Media sosial bisa membuat pendapat lebih didengar daripada fakta, sementara algoritma bekerja diam-diam, menata dunia digital sesuai kebiasaan kita. Di tengah kegaduhan semacam ini, ajaran Islam tentang tabayyun (meneliti dulu sebelum mempercayai) kembali terasa relevan.
Sekarang, informasi datang begitu cepat, bahkan sebelum kita sempat benar-benar memikirkannya. Cukup dengan satu sentuhan layar, sebuah berita bisa menjangkau ratusan orang dalam hitungan detik. Di balik layar, algoritma media sosial terus mempelajari kebiasaan kita, apa yang kita klik, apa yang kita sukai, bahkan apa yang membuat kita marah. Lalu, ia menciptakan dunia yang nyaman, penuh dengan hal-hal yang kita setujui dan perlahan menyingkirkan pandangan yang berbeda. Di balik rasa nyaman itu, kebenaran sering kali terlewat.
Di sinilah makna tabayyun terasa sangat relevan, di mana Allah Swt sudah mengiatkan melalui firman dalam QS. Al-Hujurat [49]:6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Baca juga : Tim Sindikasi Media Hijratunaa Tanam 200 Bibit Mangrove di Daerah Rawan Rob
Ayat ini bukan sekadar peringatan untuk berhati-hati, tetapi juga panggilan agar kita tidak terburu-buru menilai. Dulu, mungkin konteksnya adalah kabar yang disampaikan secara lisan. Kini, bentuknya bisa berupa unggahan, potongan video, atau tangkapan layar. Namun maknanya tetap sama, jangan mudah percaya, apalagi menyebarkan, sebelum yakin pada kebenarannya.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, sepanjang tahun 2023 terdapat lebih dari 1.600 isu hoaks yang berhasil ditangani. Sebagian besar berkaitan dengan politik, sosial, dan agama, tiga hal tersebut paling cepat dalam membakar emosi publik. Sejak 2016, total konten negatif yang telah diblokir mencapai lebih dari sembilan juta. Angka itu bukan hanya statistik, melainkan cermin betapa rapuhnya kesadaran kita di tengah banyaknya informasi.
Namun akar masalahnya tidak selalu pada teknologi. Algoritma hanyalah cermin dari perilaku kita. Ia tidak mengenal kebenaran atau kejujuran, ia hanya mengenali pola. Saat kita terus tertarik pada hal-hal yang sensasional, algoritma akan menampilkannya lagi dan lagi. Lama-lama, ruang digital pun bisa dipenuhi oleh kebencian yang saling menggema.
Sebagai umat Islam, kita dihadapkan pada tantangan baru, bagaimana menjaga akal dan adab di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti. Tabayyun hari ini bukan hanya soal memeriksa berita, tetapi juga kemampuan menahan diri. Ketika melihat unggahan yang memancing emosi, langkah terbaik sering kali adalah berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya, Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat jika aku sebarkan? satu detik jeda itu mungkin tampak kecil, tapi bisa menjadi perbedaan antara kebaikan dan kekeliruan.
Moderasi beragama dalam dunia digital berarti berani membuka diri terhadap perbedaan, tanpa kehilangan prinsip. Tidak semua yang berbeda harus dianggap salah. Islam selalu mengajarkan keseimbangan wasathiyah (sebuah jalan tengah yang tidak lemah, tetapi bijak). Di ruang digital, sikap ini bisa berarti sederhana yaitu mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, memeriksa sebelum menilai, dan menghormati meski tak selalu setuju.
Baca juga : Media Sosial dan Moderasi Beragama: Antara Dakwah Digital dan Polarisasi
Literasi digital hari ini adalah bentuk jihad baru. Ia bukan tentang perang melawan orang lain, tetapi tentang disiplin diri di tengah derasnya arus data. Pemerintah dan lembaga dakwah tentu punya peran penting, namun perubahan sejati selalu dimulai dari keputusan pribadi, keputusan untuk tidak ikut menyebarkan kabar bohong, untuk menulis komentar dengan niat menenangkan, bukan menyulut.
Kita hidup di masa ketika algoritma bisa mengatur apa yang kita lihat, tetapi tidak bisa mengatur bagaimana kita berpikir. Ruang itu masih sepenuhnya milik kita. Maka, di tengah derasnya arus informasi, tugas kita bukan hanya menjadi pengguna media, tapi penjaga nurani. Dengan tabayyun sebagai pedoman, kita bisa menyalakan kembali semangat moderasi, menjadi umat yang berhati-hati, berpikir jernih, dan membawa ketenangan, bukan kebisingan. Pada akhirnya, setiap berita yang kita bagikan adalah cermin dari siapa diri kita. Pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah?
