Bersama Mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara 2025 Bahas Ekoteologi

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah, Editor: Muslimah

Kulonprogo – Memasuki masa penghujung pengabdian KKN Nusantara 2025 di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Dialog Nusantara 2025 di Halaman Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro, Kalibawang, Kulonprogo pada Rabu, (06/07).

Bersama 140 perwakilan mahasiswa KKN Nusantara, Dialog Nusantara ini mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri” dengan menggandeng beberapa narasumber penting di antaranya Kasubtim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kementrian Agama Republik Indonesia Adimin Diens, kreator konten dan dosen Universitas Gadjah Mada I Made Andi Arsana, perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (Kesbangpol DIY) Sih Utami, dan perwakilan Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux, Boro Yohanes Adventodi.

Baca juga: Gelar Forum 17-an, GUSDURian Pekalongan Angkat Tema Agama dan Lingkungan

Sebelum membahas ekoteologi, Adimin Diens menyoroti keberagaman di Indonesia, bahwa menurutnya keberagaman menjadi potensi sekaligus tantangan bagi bangsa.

“Keberagaman adalah sebuah potensi sekaligus tantangan bagi kita,” ujarnya.

Selain itu, Sih Utami juga menyoroti keberagaman di Yogyakarta, menurutnya, sebagai daerah dengan kondisi masyarakat yang majemuk, Kesbangpol DIY selalu berusaha merawat keberagaman.

“Kami tentunya berusaha selalu merawat keberagaman, beberapa kegiatan kami lakukan seperti sinau Pancasila dan wawasan kebangsaan, kita keliling di seluruh DIY, ada juga sinau Bhinneka Tunggal Ika, dan program pembauran budaya,” jelasnya.

Baca juga: Ekoteologi Mangrove dan Resolusi Moderasi Beragama dalam Pemikiran Gus Dur: Membaca Ulang Krisis Pesisir

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Andi Arsana, ia menekankan bahwa pengetahuan menjadi dasar dari proses penghormatan terhadap keberagaman.

“Interaksi antaragama adalah keniscayaan. Toleransi, menghormati itu dasarnya pengetahuan dulu, pemahaman kita adalah kunci,” ujarnya.

Berbicara mengenai ekoteologi, Yohannes sebagai perwakilan Gereja Boro mengungkapkan, bahwa merawat bumi adalah kewajiban sekaligus tanggung jawab manusia.

“Kewajiban kita sebagai umat untuk senantiasa merawat bumi sebagai tanggung jawab untuk merawat hati kita, tidak sekedar menyembah Tuhan tapi juga merawat bumi. Dalam ajaran kami, ada porsi besar yang diajarkan untuk senantiasa merawat bumi, dan bagaimana menjaga kerukunan antaragama. Apapun agamanya apapun sukunya bisa menjadi teman kami,” jelasnya.

Turut hadir dalam Dialog Nusantara Camat Kalibawang Risdiyanto Nugroho.