Moderasi Beragama Dalam Perspektif Sosiologi: Tradisi Larung Sesaji Yang Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Dan Sekitarnya

Penulis: Kamaludin, Penyunting: Dwi Selma Fitriani

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang sarat akan makna dan nilai kebersamaan adalah Larung Sesaji, yang rutin digelar oleh masyarakat pesisir, termasuk di Banyuwangi. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan bagi berbagai elemen warga. Jika ditelaah lebih dalam, kegiatan Larung Sesaji ini dapat dilihat dari teori sosiologi masyarakat.

Masyarakat adalah suatu sistem hubungan antara manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, serta memiliki kebudayaan, norma, dan nilai-nilai yang sama (KBBI). Karakteristik masyarakat dicirikan oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang mereka anut bersama. Namun, hal yang luar biasa adalah setiap masyarakat memiliki nilai-nilai, kepercayaan, dan budaya yang berbeda, sehingga tidak ada dua masyarakat yang persis sama. Peristiwa ini menggambarkan bahwa sifat moderat sangat diterapkan oleh masyarakat Banyuwangi, yang saling bergotong royong dan tidak membedakan satu sama lain, khususnya terkait kepercayaan yang dianut.

Apa itu kegiatan Larung Sesaji dan apa saja isi dari acara tersebut sehingga bisa dikatakan sebagai kegiatan bermoderasi beragama?

Baca juga : Ramadan Berkualitas: Menakar Moderasi Beragama dalam Syiar dan Toleransi

Larung Sesaji merupakan kegiatan bermoderasi beragama. Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang agama dan kepercayaan masing-masing. Larung Sesaji adalah sebuah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia, yang pada praktiknya mungkin memiliki sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai permohonan keselamatan dan kemakmuran. Hal ini sangat mencerminkan moderasi beragama karena pelaksanaannya tidak memandang latar belakang agama masyarakat.

Rangkaian kegiatan Larung Sesaji terdiri atas beberapa tahapan. Pertama adalah persiapan, di mana masyarakat menyiapkan sesajen berupa berbagai jenis makanan, buah-buahan, dan bunga. Kedua, dilakukan prosesi larung dengan membawa sesajen tersebut ke pantai atau laut. Ketiga, masyarakat memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Tahap terakhir adalah pelepasan sesajen ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.

Baca juga : Pelestarian Budaya Lokal: Tradisi Haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Wiradesa

  1. Makna moderasi beragama yang bisa diambil dari tradisi Larung Sesaji ini sangat beragam. Pertama, sebagai wujud menghormati Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada-Nya selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Kedua, tradisi ini mengajarkan untuk menghargai keberagaman. Pelaksanaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan mampu memupuk rasa toleransi. Ketiga, kegiatan ini mengembangkan kesadaran sosial tentang pentingnya menghargai lingkungan dan alam. Keempat, Larung Sesaji mampu mengintegrasikan unsur agama dan budaya sehingga tercipta harmoni dan keselarasan. Pada akhirnya, tradisi ini terus menumbuhkan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap Sang Pencipta beserta lingkungan sekitarnya.

 

Membumikan Langit: Menghidupkan Spirit Fikih Untuk Kedamaian Umat

Penulis: Dwi Selma Fitriani; Editor: Azzam Nabil H.

Seringkali kita memandang agama sebagai sebuah menara gading yang agung namun tak tersentuh, seolah ia hanya berdiam di “langit” dalam bentuk teks-teks suci yang final dan kaku. Di sisi lain, realitas sosial di bumi terus bergejolak, menghadirkan kompleksitas yang menuntut jawaban instan dan relevan. Jarak antara kesucian teks dan hiruk-pikuk konteks inilah yang seringkali memicu ketegangan, di mana agama terkadang tampil dengan wajah yang keras ketika berhadapan dengan perbedaan.

Fikih, yang secara harfiah bermakna “pemahaman mendalam”, sejatinya adalah instrumen yang diciptakan untuk menjembatani jarak tersebut. Ia bukanlah hukum Tuhan yang statis, melainkan produk intelektual manusia dalam upaya menerjemahkan kehendak langit ke dalam dialektika bumi. Namun, ketika fikih dipahami hanya sebagai kumpulan prosedur hitam-putih tanpa melibatkan rasa dan logika kemanusiaan, ia justru berisiko menjadi sekat yang memisahkan antar sesama hamba.

Menghidupkan kembali “spirit” fikih berarti berani menggali melampaui tumpukan huruf-huruf tekstual. Kita perlu menyadari bahwa di balik setiap perintah dan larangan, terdapat denyut nadi maslahat yang menjadi jantungnya. Jika agama diturunkan untuk menjadi rahmat, maka produk pemikiran hukumnya tidak boleh memproduksi kebencian. Di sinilah moderasi beragama menemukan jangkar utamanya, bukan dengan mendiskon ajaran, melainkan dengan memahami maksud terdalam dari Sang Pencipta.

Fenomena keberagamaan kita hari ini seringkali terjebak dalam dua kutub ekstrem, mereka yang menyucikan pemahaman lama secara buta, dan mereka yang tercerabut dari akar tradisi demi mengejar modernitas. Moderasi, dalam bingkai fikih yang sehat, menawarkan jalan tengah yang dinamis. Ia membumikan nilai-nilai langit agar bisa bernafas dalam ruang-ruang publik yang majemuk, memastikan bahwa ketaatan kepada Tuhan berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

Artikel ini akan menelusuri bagaimana fikih dapat bertransformasi dari sekedar “penjaga gerbang” doktrin menjadi “pemandu harmoni”. Dengan membedah empat pilar utama, dari dekonstruksi teks hingga etika sosial, kita akan melihat bahwa kedamaian umat bukanlah sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Ia harus diupayakan melalui pemahaman hukum yang lentur, penuh empati, dan senantiasa berpijak pada bumi di mana kita berdiri.

Dekonstruksi Kekakuan: Menemukan Inti (Illat) di Balik Teks

Perjalanan spiritualitas kita seringkali terhenti pada pagar-pagar teks yang kaku, di mana huruf-huruf suci diperlakukan bak fosil diam yang tak boleh lagi berdialog dengan realitas. Terjebak dalam tirani literalisme hanya akan melahirkan pemahaman agama yang gersang, sebab ia mengabaikan denyut nadi tujuan Tuhan yang tersimpan di balik bunyi ayat maupun riwayat. Melakukan dekonstruksi terhadap kekakuan ini bukanlah bentuk pengabaian terhadap otoritas wahyu, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk memburu illat, sebuah rasio legis atau jantung logis yang menjadi alasan mengapa suatu hukum dilahirkan. Dengan menemukan inti terdalam ini, kita tidak lagi sekedar menghafal aturan secara mekanis, melainkan mampu menghidupkan kembali ruh fikih yang lentur, yang senantiasa relevan merespons tantangan zaman tanpa kehilangan jangkar transendentalnya.

Bahaya terbesar dalam beragama sering kali muncul ketika seseorang merasa telah menggenggam kebenaran mutlak hanya dengan mengeja kulit luar teks secara harfiah. Tirani literalisme ini bekerja layaknya kacamata kuda yang mempersempit cakrawala berpikir, ia mengunci makna Tuhan dalam jeruji tekstual yang sempit dan mengabaikan kompleksitas kehidupan di sekitarnya. Ketika kita hanya terpaku pada apa yang tertulis tanpa berani menyelami apa yang tersirat, agama yang sejatinya adalah oase bagi jiwa justru berubah menjadi beban birokrasi hukum yang dingin dan kaku.

Mengkritik cara pandang yang dangkal ini bukanlah upaya untuk menggugat otoritas kitab suci, melainkan ajakan untuk menghormati kecerdasan spiritual manusia. Esensi pesan Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi dogma yang mematikan akal budi, melainkan cahaya yang menuntun pada kebijaksanaan. Jika kita terus bersikukuh mempertahankan pemahaman yang “hitam-putih” di tengah dunia yang penuh dengan gradasi warna, maka kita sebenarnya sedang mereduksi keagungan pesan langit menjadi sekedar peraturan administratif yang kehilangan ruh kemanusiaannya.

Melampaui literalisme adalah sebuah perjalanan menuju kedewasaan iman. Di sini, kita diajak untuk menjadi pembaca teks yang kritis sekaligus rendah hati, yang menyadari bahwa bahasa manusia memiliki keterbatasan dalam menampung kehendak Ilahi yang Mahaluas. Dengan menembus dinding-dinding tekstual tersebut, kita mulai mampu menangkap getaran cinta dan keadilan yang menjadi fondasi utama setiap syariat. Inilah langkah awal yang krusial bagi tumbuhnya sikap moderat, sebuah kemampuan untuk tetap teguh pada prinsip, namun tetap luwes dalam memahami keberagaman realitas.

Setelah kita berhasil meruntuhkan tembok literalisme, langkah selanjutnya yang tidak kalah krusial adalah kemampuan untuk “memburu” illat atau rasio legis yang bersembunyi di balik sebuah perintah. Illat adalah nyawa dari sebuah hukum, ia merupakan alasan logis dan objektif yang menjadi pijakan mengapa sebuah aturan ditetapkan. Tanpa memahami illat, seseorang akan cenderung menerapkan hukum secara membabi buta, layaknya menggunakan resep obat yang sama untuk penyakit yang berbeda hanya karena gejalanya terlihat serupa di permukaan.

Pencarian terhadap rasio legis ini menuntut ketajaman intelektual untuk membedakan mana yang merupakan tujuan abadi Tuhan dan mana yang sekedar sarana yang terikat konteks sejarah. Ketika kita menemukan bahwa inti dari suatu larangan, misalnya, adalah untuk mencegah kerusakan (mudharat), maka kebijakan yang kita ambil di masa kini harus tetap selaras dengan upaya perlindungan tersebut, meskipun bentuk tantangannya telah bertransformasi total. Di sinilah fikih berhenti menjadi kumpulan dogma yang usang dan mulai bertransformasi menjadi panduan hidup yang cerdas dan solutif.

Ketidakmampuan dalam mengidentifikasi illat sering kali menjadi akar dari sikap ekstrem dan kaku dalam beragama. Jika hukum diterapkan secara mekanis tanpa melibatkan logika kemanusiaan, maka keadilan yang dicita-citakan justru akan berubah menjadi penindasan. Sebaliknya, dengan memburu dan memahami alasan logis di balik teks, kita memberikan ruang bagi fikih untuk bernafas dan beradaptasi. Hal ini memastikan bahwa setiap keputusan hukum yang lahir senantiasa membumi, proporsional, dan yang terpenting, mampu memelihara kedamaian di tengah keragaman situasi yang terus berubah.

Ketika pencarian illat bertemu dengan percepatan teknologi, kita dihadapkan pada sebuah disrupsi otoritas keagamaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di ruang digital, batas-batas geografis dan hierarki keilmuan tradisional seolah melebur dalam arus informasi yang serba instan. Fikih tidak lagi hanya diperdebatkan di serambi masjid atau ruang-ruang kelas yang tenang, melainkan bertarung di tengah hiruk-pikuk algoritma media sosial. Dinamika ini menuntut ijtihad untuk bergerak lebih lincah, tidak sekedar mengulang narasi lama, tetapi harus mampu memberikan jawaban atas problematika manusia modern yang hidup dalam layar gawai.

Prinsip pencarian makna yang telah kita bahas sebelumnya kini harus beradaptasi dengan karakter dunia siber yang serba cepat dan seringkali dangkal. Ijtihad digital bukan berarti mengubah hukum Tuhan demi mengikuti selera pasar, melainkan upaya untuk menerjemahkan nilai-nilai abadi ke dalam bahasa yang relevan dengan generasi masa kini. Tantangan utamanya adalah bagaimana menjaga kedalaman substansi di tengah budaya “klik” yang lebih memuja kecepatan daripada ketepatan. Di sini, seorang pemikir hukum dituntut untuk memiliki literasi teknologi yang mumpuni agar tidak gagap dalam membedah fenomena baru seperti ekonomi digital hingga etika berinteraksi di ruang publik virtual.

Kecepatan informasi di jagat digital sering kali memicu lahirnya fatwa-fatwa instan yang justru menjauh dari spirit kedamaian. Oleh karena itu, ijtihad di era ini harus berfungsi sebagai penyaring (filter) yang mampu membedakan antara kebutuhan spiritual yang autentik dengan provokasi yang dibalut jubah agama. Menemukan illat dalam konteks digital berarti memahami dampak sosial dari setiap narasi keagamaan yang dilempar ke publik. Apakah sebuah pandangan hukum akan mempererat kohesi sosial, atau justru menjadi bensin bagi api polarisasi yang sedang membara di kolom komentar?

Menghidupkan ijtihad di ruang digital adalah upaya membumikan langit di atas cakrawala teknologi. Ini adalah panggilan bagi para intelektual muslim untuk tidak hanya menjadi penonton di pinggiran zaman, tetapi menjadi pemain aktif yang mewarnai dunia digital dengan konten fikih yang menyejukkan. Dengan mengadaptasi prinsip pencarian makna yang elastis, fikih dapat tetap menjadi jangkar moral yang kokoh bagi umat manusia di tengah badai ketidakpastian informasi, memastikan bahwa spirit moderasi tetap tegak meski dunia terus berputar dalam kecepatan bit yang tak terhingga.

Fikih sebagai Jembatan Maslahat: Menempatkan Kemanusiaan di Atas Prosedur

Jika pada bagian sebelumnya kita telah menguliti teks untuk menemukan logika di baliknya, maka kini saatnya kita menegaskan bahwa muara dari segala jerih payah intelektual tersebut adalah kemanusiaan. Fikih tidak boleh dipenjara dalam labirin prosedural yang dingin, di mana aturan dijalankan hanya demi menggugurkan kewajiban formal tanpa memedulikan dampak sosial yang ditimbulkannya. Sejatinya, hukum Islam adalah sebuah jembatan yang dibangun untuk menghantarkan umat menuju tepian maslahat, sebuah kondisi di mana kebaikan bersama dijunjung tinggi dan martabat manusia tidak dikorbankan demi kekakuan dogma. Menempatkan kemanusiaan di atas prosedur berarti menyadari bahwa setiap noktah fatwa harus memiliki detak jantung empati, memastikan bahwa kehadiran agama benar-benar menjadi oase yang memulihkan, bukan sekedar palu hakim yang menghakimi perbedaan dengan kering.

Memasuki gerbang Maqashid Sharia berarti kita sedang menelusuri garis desain besar Sang Pencipta dalam menetapkan aturan. Syariat bukanlah sebuah daftar panjang tentang hukuman atau ancaman, melainkan sebuah sistem proteksi yang dirancang sedemikian rupa untuk menjaga pilar-pilar kehidupan manusia. Ketika kita berbicara tentang menjaga jiwa, akal, dan kehormatan, kita sedang membicarakan hak-hak dasar yang bersifat universal. Fikih, dalam perspektif ini, bertindak sebagai perisai yang melindungi eksistensi kemanusiaan agar tidak tercerabut oleh kekacauan maupun ketidakadilan.

Sering kali, diskursus hukum Islam di ruang publik terjebak pada wajah yang menghukum, seolah-olah kesalihan hanya bisa diukur dari seberapa keras kita menegakkan sanksi. Padahal, ruh dari Maqashid Sharia justru terletak pada upaya preventif dan konstruktif, bagaimana akal budi dijaga dari kerusakan, bagaimana kehormatan setiap individu dihargai tanpa memandang strata, dan bagaimana nyawa manusia ditempatkan pada posisi yang sangat suci. Jika sebuah pemahaman fikih justru melahirkan rasa takut atau merendahkan martabat sesama, maka ia telah kehilangan kompas tujuannya dan hanya menjadi cangkang kosong yang tanpa makna.

Oleh karena itu, meneguhkan visi ini dalam moderasi beragama menjadi mutlak. Fikih harus mampu bertransformasi menjadi bahasa perlindungan yang inklusif. Ia memberikan kepastian hukum bagi umat Islam, sekaligus menjamin keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang berbeda keyakinan di bawah payung kemanusiaan yang sama. Dengan menjadikan penjagaan terhadap martabat manusia sebagai prioritas tertinggi, fikih tidak lagi tampil sebagai sosok algojo yang menakutkan, melainkan sebagai pemandu jalan yang memastikan setiap langkah kita selalu selaras dengan prinsip keadilan dan cinta kasih Ilahi.

Di atas fondasi hukum yang kokoh, harus terbentang atap kasih sayang yang menaungi seluruh umat manusia. Prinsip Ar-Rahmah bukanlah sekedar pelengkap estetis dalam beragama, melainkan sebuah filter utama yang harus dilalui oleh setiap pandangan keagamaan sebelum dilemparkan ke tengah masyarakat. Tanpa keterlibatan empati, fatwa yang keluar dari lisan seorang alim bisa menjadi sebilah pedang yang melukai perasaan kolektif, terutama dalam konteks masyarakat yang memiliki keragaman latar belakang dan keyakinan. Fikih yang berorientasi pada kasih sayang akan selalu bertanya: “Apakah ucapan ini akan memperbaiki keadaan, atau justru merobek tenunan persaudaraan yang sudah ada?”

Menjadikan empati sebagai saringan fatwa berarti memiliki kerendahan hati untuk membayangkan dampak sosial dari setiap pernyataan hukum. Dalam masyarakat majemuk, seorang pemikir agama tidak hanya bertanggung jawab kepada teks, tetapi juga kepada kedamaian sosial. Ketika sisi kemanusiaan diletakkan di depan, maka pandangan yang lahir cenderung lebih teduh dan inklusif. Ia tidak lagi sibuk mencari-cari kesalahan pihak lain, melainkan berfokus pada bagaimana ajaran agama dapat menjadi solusi yang menyembuhkan luka-luka sosial. Di sinilah moderasi beragama menemukan wajahnya yang paling manis, yakni saat ketaatan pada syariat tidak lagi dipisahkan dari kepekaan terhadap rasa kemanusiaan sesama.

Menghidupkan spirit kasih sayang dalam berfikih adalah upaya untuk memanusiakan kembali hukum Islam. Agama diturunkan bukan untuk menciptakan beban yang tak tertahankan, melainkan sebagai bentuk cinta kasih Tuhan kepada semesta (Rahmatan lil ‘alamin). Dengan filter kasih sayang ini, setiap keputusan hukum yang diambil akan selalu menimbang maslahat dan mudharat secara proporsional. Hasilnya adalah sebuah keberagamaan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga santun secara sosial, sebuah praktik iman yang mampu merangkul keberagaman dengan tangan terbuka tanpa kehilangan jati diri ketuhanannya.

Dalam panggung sejarah keagamaan, konflik sering kali bukan meletus karena perbedaan prinsip ketuhanan yang mendasar, melainkan karena benturan simbol-simbol lahiriah yang diperebutkan secara berlebihan. Ketika atribut, label, dan formalisme dianggap lebih suci daripada nyawa manusia, di sanalah agama kehilangan substansinya. Fikih yang berorientasi pada moderasi mengajak kita untuk menembus cangkang simbolik tersebut guna menemukan inti ajaran yang lebih universal, yakni kedamaian dan keadilan. Jika simbol justru menjadi tembok pemisah yang memicu kebencian, maka sudah saatnya kita mengevaluasi kembali cara kita memahami identitas keagamaan.

Mengutamakan nilai perdamaian yang nyata berarti berani mengambil sikap bahwa ketaatan yang paling murni adalah ketaatan yang membuahkan harmoni. Perdebatan mengenai label-label keagamaan sering kali hanya menjadi ajang unjuk ego komunal yang tidak memberikan kontribusi apapun bagi kesejahteraan umat. Sebaliknya, substansi agama yang menekankan pada kejujuran, kerja keras, dan kepedulian sosial adalah bahasa universal yang bisa diterima oleh semua kalangan. Dengan menggeser fokus dari pertarungan simbol ke arah kolaborasi nilai, fikih bertransformasi menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan yang mencerai-beraikan.

Kecenderungan untuk memuja simbol sering kali membutakan kita terhadap urgensi maslahat yang lebih besar. Seseorang mungkin sangat gigih memperjuangkan formalitas hukum tertentu di ruang publik, namun abai terhadap fakta bahwa tindakannya merusak kohesi sosial dan menciptakan ketakutan di antara sesama warga bangsa. Padahal, dalam kaidah fikih yang jernih, menjaga stabilitas sosial dan keamanan bersama adalah sebuah kewajiban yang jauh lebih mendesak daripada memaksakan satu bentuk simbolisme yang belum tentu relevan dengan kebutuhan konteks zaman.

Dengan demikian, keberagamaan yang dewasa adalah keberagamaan yang mampu menempatkan simbol pada porsi yang semestinya, sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Dengan mendahulukan substansi, kita sedang membangun peradaban yang berlandaskan pada perdamaian yang konkret, bukan sekedar ketenangan semu yang dipaksakan. Inilah muara dari spirit “membumikan langit”, saat nilai-nilai suci tidak lagi hanya menggantung sebagai slogan-slogan kosong di udara, melainkan mendarat secara nyata dalam bentuk perilaku yang menyejukkan dan menjaga keutuhan umat manusia di tengah segala perbedaan.