Penulis: Dwi Selma Fitriani, Penyunting: Nahla Asyfiyah
Menjadi Indonesia berarti merayakan keberagaman sebagai napas sehari-hari. Bulan Februari 2026 adalah bulan yang istimewa. Masyarakat dihadapkan pada kondisi dua budaya besar yang saling memberikan ruang untuk bersinar bersama. Pertemuan momen sakral ini membuktikan toleransi dan moderasi beragama yang tinggi, bagaimana kita sebagai satu bangsa, mampu menyatukan doa dan sukacita dalam satu napas persaudaraan yang tulus.
Di bulan ini, langit Nusantara tidak hanya dihiasi oleh merahnya lampion khas Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, tetapi juga oleh lantunan doa syahdu yang menandai dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Pertemuan dua perayaan besar ini menciptakan suasana unik di mana aroma hidangan khas Tionghoa dan kekhusyukan persiapan sahur hadir hampir bersamaan di ruang publik yang sama.
Fenomena langka ini terjadi karena kedua kalender tersebut sama-sama mengacu pada peredaran bulan (lunar). Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 17 Februari, sementara awal Ramadan menyusul hanya berselang satu hingga dua hari setelahnya. Kedekatan waktu ini mengubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi palet warna yang memanjakan mata. Dari merah cerah simbol keberuntungan, putih bersih simbol kesucian, hingga hijau teduh yang identik dengan suasana Ramadan.
Baca juga: Moderasi Beragama dalam Sumud Flotilla: Antara Ketabahan dan Toleransi
Di kota-kota dengan populasi Tionghoa yang besar seperti Singkawang, Medan, dan Semarang, kedewasaan beragama diuji sekaligus dibuktikan. Festival lampion dan pawai barongsai yang biasanya riuh hingga larut malam kini dijalankan dengan manajemen waktu yang lebih disiplin. Ada kesepakatan tak tertulis yang sangat menyentuh dan patut diapresiasi.
Komunitas Tionghoa secara sukarela mengatur volume suara dan durasi perayaan agar memberikan ruang ketenangan bagi umat muslim yang bersiap untuk sahur dan ibadah Subuh. Sebaliknya, semangat berbagi “angpao” saat Imlek pun bersinggungan indah dengan semangat “sedekah” di awal Ramadan. Di sini, tangan-tangan yang memberi tidak lagi melihat latar belakang etnis atau agama, melainkan murni bergerak atas dasar kemanusiaan.
Dinamika menarik juga terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Kita bisa melihat pemandangan unik di mana kurma untuk berbuka puasa dijual berdampingan dengan kue keranjang. Para pelaku usaha pun sangat adaptif, dekorasi bertema naga dan barongsai bersanding manis dengan ornamen bulan bintang. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, ada pelajaran yang jauh lebih mendalam, yaitu tentang bagaimana kita merawat moderasi beragama di tengah keberagaman yang nyata.
Baca juga: Peran Masjid Al-Hikmah sebagai Simbol Toleransi Umat Beragama di Pulau Dewata
Moderasi beragama dalam momen ini bukanlah mencampuradukkan ritual ibadah, melainkan tentang cara kita mengambil jalan tengah yang penuh empati. Saat warga keturunan Tionghoa merayakan sukacita makan malam keluarga (reunion dinner), umat Islam di saat yang hampir bersamaan sedang merapikan saf untuk salat tarawih pertama. Toleransi diuji secara konkret melalui aksi-aksi kecil tetapi bermakna, seperti memastikan kemeriahan kembang api tidak mengganggu kekhusyukan doa, atau saling berbagi makanan yang disesuaikan dengan aturan agama masing-masing sebagai tanda kasih antar tetangga.
Pada akhirnya, pertemuan Imlek dan Ramadan di tahun 2026 memberikan pesan kuat bagi kita semua. Meskipun cara kita berdoa dan merayakan tradisi berbeda, esensi dari kedua momen ini sebenarnya serupa. Keduanya adalah waktu untuk pembersihan diri, refleksi atas kesalahan masa lalu, dan upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kejadian langka ini seolah menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia bahwa perbedaan bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang membuat tali persaudaraan semakin kuat jika dirawat dengan rasa hormat yang tulus.
