Ketika Pengajian Mengajarkan Lebih dari Sekadar Mengaji

Penulis: Nailul Uly Emiliana, Editor: Nehayatul Najwa

Di tengah derasnya arus digital yang sering menyita perhatian masyarakat, masih ada ruang-ruang kecil yang menjadi oase bagi tumbuhnya semangat belajar agama. Salah satunya dapat ditemukan di RW 09, Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Setiap Sabtu selepas salat Asar, puluhan ibu-ibu berkumpul dalam sebuah majelis taklim sederhana. Tidak hanya untuk membaca Al-Qur’an atau mendengarkan ceramah, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi dan saling menguatkan dalam menjalani kehidupan.

Menariknya, pengajian ini memiliki tradisi yang mungkin belum banyak dijumpai di tempat lain. Sebelum kajian dimulai, seluruh jamaah diajak melakukan peregangan otot selama beberapa menit. Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, kegiatan ini mungkin terasa tidak biasa. Namun, justru dari kebiasaan sederhana itulah tersimpan pesan yang mendalam. Para jamaah diajak menjaga kesehatan tubuh agar tetap bugar sehingga dapat mengikuti pengajian dengan lebih fokus, nyaman, dan khusyuk. Sebuah pengingat bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari bentuk syukur atas nikmat yang Allah titipkan kepada manusia.

Setelah tubuh dipersiapkan, hati pun diisi dengan ilmu. Pada pertemuan kali ini, kajian berfokus pada Surah Al-Wāqi’ah, surah ke-56 dalam Al-Qur’an yang termasuk golongan Makkiyah. Surah ini sangat akrab di telinga umat Islam. Banyak orang membacanya setiap malam, bahkan ada yang menjadikannya amalan harian karena berharap memperoleh keberkahan dari Allah Swt.

Namun, ustaz yang menyampaikan kajian mengajak jamaah melihat Surah Al-Wāqi’ah dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, persoalan utama bukanlah seberapa sering seseorang membaca surah tersebut, melainkan “seberapa benar ia membacanya”. Sebab, dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan makhraj huruf dan tajwid yang benar. Jangan sampai semangat mengulang bacaan justru membuat kita lupa memperbaiki kualitasnya.

Dalam kajian tersebut, dijelaskan beberapa ayat yang sering keliru dibaca. Misalnya, pada ayat pertama, huruf ‘ain di akhir lafaz harus keluar dari makhrajnya dengan jelas. Pada ayat keenam, sifat hams perlu terdengar sehingga karakter huruf tetap terjaga. Di ayat ketujuh, huruf zā’ tidak boleh dibaca memantul seperti qalqalah. Jamaah juga diingatkan tentang pentingnya membaca ghunnah secara sempurna pada ayat ke-12 dan ke-35, membedakan pelafalan huruf ḥa dan kha pada ayat ke-65, serta membaca tasydid dengan mengalir tanpa terputus pada ayat ke-79. Penjelasan tersebut membuat para jamaah menyadari bahwa memperbaiki satu huruf saja merupakan bagian dari memuliakan firman Allah.

Kajian ini juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai keutamaan Surah Al-Wāqi’ah. Selama ini, banyak orang mengenalnya sebagai surah pembuka pintu rezeki dan pelindung dari kemiskinan. Harapan tersebut tentu boleh dimiliki sebagai bentuk doa kepada Allah. Namun, ustaz mengingatkan bahwa yang lebih utama adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar membacanya karena mengharapkan manfaat duniawi. Keberkahan Al-Qur’an akan terasa ketika ia dibaca dengan benar, dipahami maknanya, lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana pengajian sore itu terasa begitu hangat. Tidak ada kesan menggurui, apalagi membuat jamaah takut karena banyak kesalahan. Sebaliknya, kajian berlangsung dengan penuh semangat belajar. Sesekali terdengar tawa ketika ustaz mencontohkan kesalahan bacaan yang sering dilakukan, lalu para jamaah bersama-sama memperbaikinya. Dari suasana seperti inilah tumbuh kesadaran bahwa belajar agama adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Apa yang dilakukan ibu-ibu di RW 09, Desa Maleber, memberikan pelajaran bahwa pengajian tidak hanya menjadi tempat mendengar ceramah, tetapi juga ruang untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Dimulai dengan menjaga kesehatan melalui peregangan, dilanjutkan dengan memperbaiki bacaan Al-Qur’an, kemudian ditutup dengan semangat mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari. Semua rangkaian itu membentuk harmoni antara kesehatan jasmani, ketenangan rohani, dan penguatan ukhuwah.

Pada akhirnya, pengajian bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah ruang tumbuh bagi masyarakat. Dari majelis sederhana inilah lahir kesadaran bahwa mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan sering membacanya, tetapi juga dengan terus belajar membacanya secara benar, memahami kandungannya, dan menghadirkannya dalam setiap langkah kehidupan. Barangkali, inilah makna keberkahan yang sesungguhnya: ketika ilmu tidak berhenti di telinga, melainkan mengubah cara seseorang memandang dan menjalani hidup.