Penulis : Nafis Mahrusah, Editor: Muslimah
Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui slogan dan kampanye. Kesadaran tersebut yang sedang dibangun melalui Mulyorejo Festival 2026 di Desa Mulyorejo, Jumat (29/05). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan untuk merespons berbagai persoalan ekologis yang dihadapi kawasan pesisir.
Baca juga: Suluk Ekologi: Menemukan Jejak Tuhan Dalam Kelestarian Alam
Muhammad Abdul Razak, selaku Marketing dan Admin Media Sosial Mangrove Mulyoasri, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan yang berkembang di sekitar desa. Menurutnya, pemerintah desa ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghijauan di wilayah tempat tinggal mereka.
“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, baik menjaga kebersihan maupun melakukan penghijauan di sekitar rumah masing-masing,” ujarnya.
Kegiatan dimulai pada pagi hari, dengan kerja bakti yang melibatkan warga Desa Mulyorejo. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang hidup yang mereka tempati. Kegiatan kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir dan malam hari seremonial dengan menyuguhkan live music dan sharing session.
Penanaman mangrove diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lingkungan, pelajar, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pekalongan seperti UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Universitas Pekalongan, dan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Tercatat sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan melalui pendaftaran resmi, ditambah sekitar 37 peserta dari kalangan pelajar madrasah tsanawiyah. Adapun materi edukasi lingkungan disampaikan oleh Ki Suryo Joko Carito, SP. dari Pemalang.
Di balik kegiatan tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar yang sedang dihadapi masyarakat pesisir, yakni abrasi dan penurunan muka tanah yang terus mengancam kawasan pantai utara. Razak menilai bahwa penanaman mangrove menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.
“Di daerah pesisir, peningkatan abrasi sangat luar biasa. Dengan adanya penghijauan dan menjaga lingkungan, diharapkan dapat meminimalisir penurunan tanah serta memperlambat laju abrasi di kawasan pesisir utara,” katanya.
Semangat yang dibawa dalam Mulyorejo Festival juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah atau penjaga bumi. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut sering kali merupakan akibat dari tindakan manusia sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.
Meski, keberhasilan festival ini tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau bibit mangrove yang ditanam. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kesadaran tersebut terus hidup setelah acara berakhir. Di tengah ancaman abrasi yang semakin nyata, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah apakah kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi budaya sehari-hari masyarakat, atau justru berhenti sebagai agenda tahunan semata. Dengan demikian, Mulyorejo Festival tidak hanya menjadi perayaan lingkungan, tetapi juga momentum refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam menjaga alam untuk generasi yang akan datang.
