Kunjungan dan Dialog Aspiratif Desa Kutorojo

Penulis: Muhammad Wafiq Farhan, Editor: Nahla Asyfiyah

Pada Kamis, 23 April 2026, telah dilaksanakan kunjungan silaturahmi dan dialog aspiratif yang bertempat di Wisata Gua Macan, Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen. Pertemuan ini dihadiri oleh Dr. Nur Khafid, S.Th.I., M.Sc., selaku perwakilan dari Kementerian Agama, beberapa dosen UIN Gus Dur, yaitu: Dr. Nanang Hasan Susanto, M.Pd.I., Syamsul Bahri, M.Sos, dan Muhammad Alghiffary, M.Hum. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Kepala Desa Kutorojo, Bapak Dulhajat, beserta jajaran kepala dusun setempat. Pemilihan lokasi di Gua Macan menjadi latar belakang penting dalam mendiskusikan kembali sejarah serta identitas desa yang dahulu bernama Desa Kutomulyo.

Sejarah Desa Kutomulyo ini berkaitan erat dengan kisah Mbah Mulyo dan putrinya yang melarikan diri ke wilayah ini untuk menghindari paksaan orang Belanda. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Desa Kutorojo yang mengandung filosofi dan harapan agar desa ini tumbuh menjadi sebuah kota kecil (kota mini) yang mandiri serta makmur. Secara geografis, Desa Kutorojo terletak pada ketinggian 450–500 meter di atas permukaan laut (mdpl), posisi yang sangat mendukung potensi pertanian, terutama pada komoditas kopi yang melimpah.

Baca juga: Menanam Harapan, Menumbuhkan Ekoteologi, LP2M UIN Gus Dur Bersama Desa Linggoasri Tanam 1.000 Bibit Kopi di Tanah Wakaf

Selain potensi kopi, kekuatan ekonomi Desa Kutorojo bertumpu pada sektor kehutanan seperti pinus, persawahan, serta industri kreatif berupa kerajinan bambu atau reyeng. Kerajinan ini merupakan mata pencaharian mayoritas warga yang pemasarannya telah menembus pasar ibu kota Jakarta. Desa ini juga memiliki kekayaan alam unik berupa mata air yang mengalir dari batu berlubang di atas bukit sebagai sumber kehidupan warga. Keberadaan sumber daya ini terus didorong pengembangannya guna mengoptimalkan seluruh potensi ekonomi desa yang ada.

Dalam dialog yang berlangsung di Gua Macan tersebut, dipaparkan mengenai keragaman tata cara peribadatan dari berbagai agama dan kepercayaan yang ada di desa. Mulai dari Islam, Hindu, hingga Kapitayan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua Agama Hindu setempat yang memperkuat potret nyata kerukunan antarumat beragama di Desa Kutorojo. Kehidupan sosial di desa ini memang menjadi teladan moderasi, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang dan organisasi kemasyarakatan dapat hidup berdampingan dengan rukun.

Melalui pertemuan di lokasi wisata ini, muncul harapan besar agar Desa Kutorojo dapat dikenal luas sebagai “Desa Moderasi”, menyamai reputasi desa-desa moderasi lainnya yang sudah terkenal di Indonesia. Harmoni sosial yang ditunjukkan oleh warga dalam keseharian mereka menjadi pondasi utama bagi pembangunan desa ke depannya. Dengan demikian, perpaduan kekayaan alam serta kuatnya nilai toleransi, Desa Kutorojo optimis dapat bertransformasi menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lebih lanjut, potensi pertanian kopi di ketinggian 450–500 mdpl diproyeksikan dapat diintegrasikan dengan pengembangan wisata untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Dialog ini menekankan pentingnya penguatan sektor ekonomi lokal agar selaras dengan identitas budaya dan nilai-nilai religius masyarakat setempat. Optimalisasi pasar lokal menjadi salah satu rekomendasi strategis untuk memasarkan potensi-potensi unik tersebut secara lebih luas.

Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk terus menjaga warisan sejarah dan harmoni lintas agama yang telah mengakar sejak zaman Desa Kutomulyo. Sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah desa menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Desa Kutorojo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Pekalongan. Melalui semangat kebersamaan, Desa Kutorojo siap melangkah menjadi destinasi yang unggul baik dari segi agrikultur maupun kemasyarakatan.