Tradisi Sorogan Kitab Kuning sebagai Pondasi Moderasi Beragama di Pesantren

Penulis: Chintya Syakira, Penyunting: Nahla Asyfiyah

Tradisi sorogan kitab kuning merupakan salah satu metode pembelajaran klasik di pesantren yang berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini melibatkan santri untuk membaca kitab secara langsung di hadapan kiai, lalu kiai membimbing, mengoreksi, dan menjelaskan maknanya secara mendalam. Metode tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan spiritualitas. Sorogan mengajarkan ketekunan, kedisiplinan, dan kerendahan hati yang menjadi nilai-nilai dasar dalam membentuk kepribadian santri yang moderat.

Kitab kuning menjadi media utama dalam tradisi sorogan yang berisi ajaran-ajaran Islam klasik yang mencakup aspek akidah, fikih, tasawuf, dan akhlak. Meskipun berasal dari khazanah lama, isi dari kitab kuning sangat relevan dalam konteks modern, terutama dalam membangun sikap keagamaan yang seimbang. Melalui pemahaman mendalam terhadap teks-teks ini, santri diajak untuk berpikir kritis, tidak tergesa-gesa dalam menilai perbedaan, dan mampu memahami perbedaan pendapat dalam Islam secara bijak.

Baca juga: Santri Zillenial sebagai Agen Perubahan dalam Peradaban Digital

Konteks moderasi beragama dalam tradisi sorogan kitab kuning berperan penting sebagai benteng dari sikap ekstrem, baik ekstrem kanan (radikal) maupun ekstrem kiri (liberal). Melalui bimbingan langsung dari kiai, santri tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga menyerap cara berpikir dan bersikap yang penuh hikmah. Kiai menjadi teladan dalam menyeimbangkan antara teks dan konteks, antara syariat dan realitas, sehingga santri terbiasa untuk tidak kaku dalam beragama.

Selain itu, tradisi sorogan mengajarkan pentingnya adab dalam mencari ilmu. Beragam proses yang dijalani santri tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menundukkan ego dan menghormati guru. Nilai adab tersebut menjadi fondasi terciptanya generasi muslim yang santun, toleran, dan menghargai perbedaan. Adab inilah yang menjadi kunci utama dalam membangun moderasi beragama, karena seseorang yang beradab tidak akan mudah menyalahkan atau merendahkan keyakinan orang lain.

Sorogan juga membentuk kemampuan santri dalam memahami perbedaan mazhab dan pandangan ulama. Melalui berbagai kitab kuning, mereka diajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan rahmat, bukan sumber perpecahan. Pemahaman ini membuat santri terbiasa dengan keragaman pemikiran dalam Islam dan mampu menempatkan diri secara bijaksana di tengah masyarakat yang majemuk.

Dengan demikian, sorogan melahirkan santri yang tidak mudah terprovokasi oleh ide-ide intoleran. Sorogan mengajarkan pentingnya proses belajar yang mendalam dan hati-hati. Metode ini menumbuhkan kesabaran intelektual dan spiritual di mana dua hal tersebut sangat dibutuhkan agar seseorang tidak mudah terseret oleh informasi keagamaan yang dangkal dan menyesatkan.

Baca juga: Perjalanan Pemimpin dan Pendidik: Kisah K.H. Mas’ud Abdul Qodir dan Pondok Pesantren Darul Amanah

Pesantren yang mempertahankan tradisi sorogan sejatinya sedang menjaga warisan keilmuan Islam yang berakar pada sanad dan otoritas keilmuan yang jelas. Sanad keilmuan inilah yang membedakan pemahaman agama yang otentik dengan yang dangkal. Dengan demikian, sorogan bukan sekadar metode belajar, tetapi juga sistem penjagaan keaslian ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang berpaham ekstrem.

Melalui kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa tradisi sorogan kitab kuning merupakan pondasi penting bagi moderasi beragama di pesantren. Ia menanamkan nilai-nilai intelektual, spiritual, dan moral yang seimbang. Membentuk santri yang berpikir kritis, tetapi tetap santun, serta teguh dalam prinsip, tetapi terbuka terhadap perbedaan. Di tengah arus globalisasi dan ideologi transnasional, sorogan menjadi benteng dan sekaligus petunjuk arah bagi terciptanya kehidupan beragama yang damai, toleran, dan beradab.