Penulis: Faliqul Isbah*, Penyunting: Muslimah
Di tengah deru modernitas yang sering kali menempatkan alam sebagai komoditas dan manusia sebagai angka, hadir sebuah suara yang tak berteriak, namun getarannya menembus hingga ke palung nurani. Ialah KH. Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab kita sapa Gus Mus, sosok kyai yang tidak hanya fasih melafalkan teks suci di atas podium, tetapi juga mahir membaca denyut nadi bumi melalui kanvas dan bait-bait puisi. Kehadirannya seolah menjadi oase di tengah padang pasir kebencian, menawarkan kesejukan di saat agama sering kali diseret ke dalam panggung konflik kekuasaan yang gersang.
Bagi Gus Mus, kesalehan spiritual tidak pernah berdiri sendiri di dalam ruang hampa atau terisolasi di balik dinding pesantren yang tebal. Baginya, setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah sajadah panjang yang menuntut penghormatan dan penjagaan. Melalui pandangan dunia yang integratif, beliau mengajak kita untuk melihat bahwa merusak alam adalah bentuk pengingkaran terhadap Sang Pencipta, dan menyakiti sesama manusia adalah luka bagi kemanusiaan itu sendiri. Inilah esensi dari keberagamaan yang tidak hanya mengejar langit, tapi juga memeluk bumi dengan penuh kasih.
Pendekatan beliau yang “lembut” bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi diplomasi hati yang luar biasa kuat. Di saat banyak orang memilih pedang untuk membela Tuhan, Gus Mus justru memilih kuas lukis dan pena sastra untuk membela hamba-hamba-Nya. Estetika yang beliau tawarkan mampu meluruhkan sekat-sekat ego yang kaku, mengubah kemarahan menjadi perenungan, dan mengganti penghakiman dengan dialog yang memanusiakan. Sastra dan seni di tangan beliau menjadi jembatan yang menghubungkan realitas ketuhanan dengan realitas sosial yang sering kali retak.
Artikel ini mencoba menelusuri lebih dalam bagaimana konsep “Memeluk Bumi dan Nurani” bukan sekedar metafora indah, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Islam yang kontekstual dan humanis. Kita akan melihat bagaimana Gus Mus mengonstruksi pemahaman bahwa menjaga ekologi dan menegakkan hak asasi manusia adalah dua sisi dari keping mata uang yang sama. Di tangan sang Kyai, agama kembali pada fitrahnya sebagai rahmat, bukan sebagai sekat, sebagai penyembuh luka semesta, bukan sebagai penabur garam di atas duka lara dunia.
Melalui empat pilar pembahasan utama, kita akan menyelami kedalaman pemikiran beliau, mulai dari semangat ekosufisme yang menjaga kelestarian hayati, hingga pembelaan konsistennya terhadap kaum yang terpinggirkan. Membedah pemikiran Gus Mus berarti belajar kembali cara menjadi manusia yang utuh, yang mampu bersujud dengan khusyuk di hadapan Tuhan, sembari tangan tetap merangkul alam dan mendekap sesama dengan kehangatan nurani yang tak kunjung padam.
Ekosufisme: Spiritualitas yang Membumi
Dalam lanskap pemikiran Gus Mus, agama tidak dipahami sebagai dogma yang melangit dan asing dari realitas material, melainkan sebuah energi spiritual yang membumi dalam rupa Ekosufisme. Konsep ini menegaskan bahwa denyut nadi keberagamaan seseorang seharusnya bergetar selaras dengan nafas alam semesta, sebuah kesadaran bahwa merawat bumi bukanlah sekedar aktivisme lingkungan semata, melainkan manifestasi dari sujud yang paling dalam kepada Sang Pencipta. Melalui kacamata ini, Gus Mus mengajak kita untuk menanggalkan ego antroposentris yang rakus dan menggantinya dengan empati ekologis, di mana setiap jengkal tanah, tetesan air, dan hembusan angin dipandang sebagai ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis namun wajib dijaga kesuciannya dari tangan-tangan destruktif.
Bagi Gus Mus, alam semesta bukanlah sekedar panggung bisu tempat manusia memuaskan hasrat konsumsinya, melainkan sebuah “Sajadah Hijau” yang terbentang luas tanpa batas. Dalam perspektif ini, setiap rimbun pepohonan, aliran sungai yang jernih, hingga hamparan tanah yang subur, memiliki derajat kesakralan yang setara dengan ruang-ruang ibadah formal. Beliau memposisikan lingkungan sebagai manifestasi nyata dari keagungan Ilahiyah, di mana merusak ekosistem sama hinanya dengan menodai kesucian rumah Tuhan, karena keduanya merupakan tempat manusia bersimpuh dan mengenali hakikat penciptaan.
Relasi antara manusia dan bumi dalam pandangan beliau bukanlah hubungan antara subjek dan objek, melainkan sebuah persaudaraan eksistensial yang diikat oleh ruh yang sama. Ketika Gus Mus berbicara tentang menjaga keasrian lingkungan, beliau sebenarnya sedang mengajak kita untuk melakukan “shalat ekologis”, sebuah bentuk pengabdian yang tidak hanya berhenti pada gerakan ruku dan sujud di dalam masjid, tetapi berlanjut pada tindakan nyata melindungi setiap makhluk hidup. Kesadaran akan “Sajadah Hijau” ini menuntut integritas moral yang tinggi, bahwa iman yang kokoh harus tercermin dari tangan yang menanam, bukan tangan yang merambah hutan demi keuntungan sesaat.
Dengan menjadikan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus berhasil meruntuhkan tembok pemisah antara yang profan dan yang suci. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga kehormatannya layaknya menjaga sebuah amanah besar. Penjagaan terhadap alam bukan lagi sekedar urusan birokrasi atau kebijakan aktivis lingkungan, melainkan sebuah panggilan iman yang mendalam. Di bawah bimbingan nurani yang jernih, kita diajak untuk melihat bahwa dalam setiap tarikan nafas dan keindahan cakrawala, terdapat jejak-jejak Tuhan yang hanya bisa kita rasakan jika kita memperlakukan bumi dengan penuh khidmat dan rasa cinta yang tulus.
Berangkat dari kesadaran akan alam sebagai ruang sakral, Gus Mus membawa visi ekologis tersebut ke dalam lokus pendidikan yang paling intim, yakni pesantren. Di bawah atap-atap teduh bangunan pesantren, nilai-nilai abstrak tentang penjagaan semesta tidak hanya berhenti menjadi hafalan teks, melainkan diartikulasikan menjadi Fikih Lingkungan yang praktis dan hidup. Di sini, etika ekologi diterjemahkan ke dalam laku keseharian para santri, di mana ketaatan kepada Tuhan diuji melalui cara mereka memperlakukan air yang mereka gunakan untuk bersuci dan tanah yang mereka pijak untuk mengabdi.
Kedisiplinan dalam “Fikih Hijau” ini tampak nyata pada hal-hal yang sering dianggap sepele namun memiliki dampak sistemik, seperti budaya hemat air. Gus Mus sering menekankan bahwa penggunaan air yang berlebihan, bahkan untuk keperluan wudhu sekalipun, adalah bentuk pemborosan yang dibenci agama. Dalam bilik-bilik wudhu, para santri diajarkan untuk memandang setiap tetes air sebagai rezeki yang terbatas, sebuah latihan spiritual untuk mengikis sifat rakus manusia. Pengajaran ini membentuk karakter manusia yang sadar akan keterbatasan sumber daya alam, menanamkan prinsip bahwa kesalehan sejati harus berjalan beriringan dengan efisiensi ekologis.
Lebih jauh lagi, penghormatan terhadap tanaman dan ekosistem di lingkungan pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum cinta yang diajarkan beliau. Santri dididik untuk melihat pohon dan tumbuhan bukan sebagai benda mati, melainkan sesama makhluk yang terus bertasbih kepada Sang Pencipta. Menyakiti dahan pohon tanpa alasan yang benar dipandang sebagai tindakan yang mencederai harmoni alam. Melalui pendekatan yang humanis dan penuh kasih ini, Gus Mus berhasil menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan, di mana setiap individu yang keluar darinya membawa bekal kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari rukun iman yang diaplikasikan dalam setiap tarikan nafas.
Puncak dari bangunan spiritualitas ekologi Gus Mus adalah keberanian untuk membenturkan nafsu eksploitatif manusia dengan prinsip Qana’ah. Beliau menganalisis bahwa krisis lingkungan yang melanda bumi saat ini bukanlah sekedar masalah kegagalan teknologi atau kebijakan pemerintah, melainkan gejala dari penyakit batin yang kronis, hilangnya rasa syukur. Dalam pandangan beliau, kerusakan hutan, polusi sungai, dan eksploitasi lahan yang brutal berakar dari syahwat kepemilikan yang tak pernah kenyang, di mana manusia merasa menjadi pemilik mutlak semesta, bukan sekedar penjaga atau khalifah yang diberi amanah.
Gus Mus secara tajam mengkritik gaya hidup modern yang menuhankan akumulasi materi tanpa batas. Bagi beliau, beragama yang benar seharusnya melahirkan pengendalian diri (self-control) yang kuat, bukan justru menjadi legitimasi untuk menguasai sumber daya alam secara sepihak. Konsep Qana’ah atau merasa cukup yang beliau tawarkan bukanlah sebuah sikap pasif atau kemalasan, melainkan sebuah bentuk perlawanan radikal terhadap konsumerisme. Merasa cukup adalah sebuah kemenangan spiritual atas keserakahan, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak kita mengambil dari alam, tetapi pada seberapa bijak kita mengelolanya.
Kritik beliau juga menyasar pada hilangnya dimensi asketis dalam praktik beragama kontemporer. Beliau menyayangkan jika simbol-simbol kesalehan hanya tampil di permukaan, sementara perilaku ekonominya tetap destruktif terhadap lingkungan. Gus Mus mengajak kita untuk kembali merenungkan makna syukur yang substantif, bahwa bersyukur atas nikmat oksigen berarti menanam pohon, dan bersyukur atas nikmat air berarti tidak mencemarinya. Tanpa kendali diri yang berakar pada nurani, agama hanya akan menjadi instrumen pemuas ego yang justru mempercepat laju kerusakan bumi yang kita huni.
Pemikiran Gus Mus tentang Qana’ah menjadi antitesis bagi kerakusan korporasi maupun individu yang abai terhadap keberlanjutan masa depan. Beliau menawarkan sebuah “etika kecukupan” sebagai jalan keluar dari kiamat ekologis. Dengan meneladani sikap hidup beliau yang sederhana namun kaya makna, kita diajak untuk menyadari bahwa bumi memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, namun tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan satu orang saja. Di titik inilah, spiritualitas yang membumi menemukan bentuknya yang paling nyata, sebuah keberanian untuk berkata “cukup” demi lestarinya semesta dan kemanusiaan.
Diplomasi Puisi dan Lukisan: Menyentuh Nurani Tanpa Menghakimi
Beranjak dari komitmen teologis terhadap alam, Gus Mus memperluas spektrum dakwahnya melalui medium yang jauh lebih cair dan universal, yakni Diplomasi Puisi dan Lukisan. Di tangan beliau, kesenian tidak hanya tampil sebagai dekorasi estetik, melainkan bertransformasi menjadi bahasa kalbu yang mampu menembus tembok-tembok dogmatis yang sering kali memisahkan manusia. Melalui goresan kuas yang penuh makna dan bait-bait puisi yang sarat akan kejujuran, Gus Mus melakukan navigasi spiritual untuk menyentuh relung nurani yang paling dalam tanpa sedikit pun kesan menghakimi. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi profetik yang memilih untuk “mengetuk pintu” daripada “mendobrak meja”, membuktikan bahwa keindahan sering kali memiliki kekuatan persuasif yang jauh lebih dahsyat daripada sekedar deretan argumen yang kaku dan penuh amarah.
Dalam kanvas-kanvas Gus Mus, Garis dan Warna yang Meluruhkan Sekat bukan sekedar ungkapan artistik, melainkan sebuah jembatan visual yang melintasi jurang perbedaan identitas. Saat bahasa verbal sering kali terjebak dalam sekat-sekat sektarian dan terminologi yang memicu perdebatan, bahasa rupa beliau justru hadir dengan kejujuran yang telanjang. Lukisan-lukisannya menjadi ruang pertemuan yang inklusif, di mana mereka yang berbeda iman, ideologi, maupun latar belakang sosial dapat duduk bersama dan menemukan titik temu dalam apresiasi keindahan yang bersifat universal.
Kekuatan diplomasi rupa ini terletak pada kemampuannya untuk mengomunikasikan pesan-pesan kemanusiaan yang sering kali terlalu berat jika disampaikan lewat khotbah formal. Gus Mus menggunakan sapuan warna yang intuitif untuk menggambarkan realitas sosial, mulai dari potret rakyat kecil yang tulus hingga kritik terhadap keangkuhan kekuasaan, dengan cara yang lembut namun menggugah. Di titik inilah, lukisan beliau melampaui batasan linguistik, ia tidak memerlukan terjemahan bahasa untuk dipahami, karena nurani manusia memiliki frekuensi yang sama saat berhadapan dengan keindahan dan kebenaran yang tulus.
Melalui medium ini, Gus Mus membuktikan bahwa seni adalah “bahasa ibu” kemanusiaan yang mampu meruntuhkan tembok prasangka. Ketika seseorang menatap karya beliau, yang mereka lihat bukanlah identitas seorang kyai dari kalangan tertentu, melainkan cerminan dari jiwa yang mencintai perdamaian. Goresan kuasnya tidak mendikte, melainkan mengajak penikmatnya untuk berdialog dengan diri sendiri, meluruhkan ego kelompok, dan akhirnya menyadari bahwa di balik segala atribut lahiriah, kita semua menghuni rumah batin yang sama.
Jika lukisan adalah jembatan visual, maka puisi-puisi Gus Mus adalah “Cermin Retak” masyarakat yang sengaja diletakkan di hadapan kita untuk menyingkap keganjilan-keganjilan sosial. Dalam bait-bait sastranya, beliau tidak menggunakan kata-kata sebagai martil untuk memukul kepala lawan bicara, melainkan sebagai pisau bedah yang sangat halus untuk menyayat lapisan kemunafikan yang kerap menyelimuti perilaku kolektif kita. Sastra di tangan Gus Mus menjadi alat autokritik yang memaksa setiap pembaca untuk berhenti menunjuk telunjuknya ke arah orang lain dan mulai berani menatap pantulan wajah batinnya sendiri yang mungkin penuh debu.
Narasi sastra yang beliau bangun selalu memiliki daya magis untuk membungkus kritik tajam dalam balutan diksi yang jenaka namun getir. Beliau sering kali menyindir fenomena keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, sementara esensi kemanusiaan terabaikan. Melalui metafora yang akrab dengan keseharian, puisi beliau mengajak kita merenung, apakah kita sedang membela Tuhan, atau sebenarnya hanya sedang memuja ego kita sendiri yang dibungkus dengan jubah agama? Kekuatan “Cermin Retak” ini terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasa tersindir tanpa merasa dihina, sebuah metode persuasif yang melahirkan kesadaran emosional daripada pembangkangan intelektual.
Puisi-puisi tersebut berfungsi sebagai terapi sosial untuk menyembuhkan penyakit “merasa paling benar” yang kian mewabah. Gus Mus mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki keberanian untuk mengakui kerapuhannya sendiri. Dengan membaca karya sastranya, kita tidak sedang didikte untuk menjadi orang lain, melainkan diajak untuk “pulang” ke dalam kejujuran nurani. Inilah bentuk diplomasi sastra yang paripurna, sebuah kritik yang tidak menyisakan luka kemarahan, melainkan menyemai benih kerendahan hati untuk memperbaiki retakan-retakan dalam cermin kehidupan bersama.
Puncak dari diplomasi seni Gus Mus bermuara pada sebuah paradigma yang kita sebut sebagai Estetika Dakwah: Mengajak tanpa Mengejek. Dalam ruang publik yang sering kali bising dengan orasi yang penuh penghakiman, beliau memilih jalur sunyi yang indah, menyampaikan kebenaran melalui pintu estetika. Bagi Gus Mus, dakwah bukanlah sebuah ajang untuk menunjukkan supremasi moral atau memamerkan keshalehan pribadi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menaburkan benih kebaikan dengan cara yang paling terhormat, sehingga nurani penerimanya terbuka secara sukarela tanpa merasa terancam atau direndahkan.
Metode ini berakar pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecintaan alami terhadap keindahan. Ketika sebuah pesan moral dibungkus dengan bahasa sastra yang memukau atau goresan lukisan yang menyentuh, ego defensif manusia cenderung meluruh. Gus Mus memahami bahwa kritik yang disampaikan dengan amarah sering kali hanya akan melahirkan pembangkangan, namun ajakan yang disampaikan dengan kelembutan estetis akan meresap seperti air yang membasahi tanah kering. Di sinilah letak kecerdasan emosional beliau, mengganti diksi yang memukul dengan diksi yang merangkul, serta mengubah narasi yang memisahkan menjadi narasi yang menghubungkan.
Lebih jauh lagi, estetika dakwah ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap martabat kemanusiaan. Beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai guru yang berdiri di atas mimbar tinggi sementara audiensnya dianggap sebagai pendosa di bawah. Sebaliknya, beliau sering kali menggunakan metafora “kita”, sebuah kata ganti yang meruntuhkan hierarki dan menempatkan beliau dalam gerbong yang sama dengan pembaca atau pendengarnya. Dengan cara ini, pesan-pesan beliau tidak terasa seperti “serangan” dari luar, melainkan seperti “bisikan” dari dalam nurani sendiri, yang mengajak untuk kembali pada jalur kearifan tanpa harus menyisakan luka rasa malu.
Gaya dakwah Gus Mus membuktikan bahwa keindahan adalah instrumen perubahan sosial yang paling tangguh. Beliau telah berhasil mengembalikan wajah agama yang ramah, yang tidak perlu berteriak untuk didengar, dan tidak perlu mencaci untuk dihormati. Estetika dakwah ini adalah sebuah antitesis terhadap radikalisme verbal yang kian marak, sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari setiap pesan ketuhanan adalah untuk memanusiakan manusia. Di tangan beliau, agama kembali menjadi oase yang menyejukkan, di mana setiap jiwa merasa diterima, dihargai, dan perlahan dibimbing menuju cahaya tanpa harus merasa dikecilkan.
Pada akhirnya, warisan pemikiran Gus Mus adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk kembali pulang ke rumah nurani yang jernih sebagai solusi atas segala krisis peradaban. Dengan memadukan etika kecukupan (qana’ah) dan empati yang inklusif, kita diajak untuk melihat bahwa merawat bumi dan membela mereka yang terpinggirkan adalah satu nafas ibadah yang tak terpisahkan. Melalui teladan beliau, kita belajar bahwa di balik segala riuh rendah perbedaan dan kecanggihan teknologi, perdamaian dunia yang abadi hanya bisa tumbuh dari hati yang telah selesai dengan egonya sendiri. Meneladani Gus Mus berarti berani untuk terus menenun cinta di atas retakan-retakan perbedaan, demi lestarinya semesta dan tegaknya nurani kemanusiaan yang abadi.
*Dosen UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan
