Penulis: Fatimatus Zahro, Penyunting: Nahla Asyfiyah
Tradisi merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat yang berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda identitas budaya. Di tengah kemajuan zaman yang serba modern, masyarakat tetap berusaha mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah haul Kanjeng Adipati Djayengrono di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap tokoh penyebar agama Islam yang berperan besar dalam perkembangan keagamaan di daerah tersebut.
Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan memiliki kekayaan budaya berupa kawasan makam dan bangunan Masjid Jami Al-Qodim. Salah satu situs yang juga merupakan cagar budaya adalah makam Kanjeng Adipati Djayengrono. Menurut penuturan beberapa tokoh sejarah, sebelum bernama Wiradesa, daerah ini disebut Wiroto. Kanjeng Adipati Djayengrono inilah yang memerintah Wiroto pertama kali di era sekitar akhir 1.600 Masehi.
Baca juga: Harmoni Islam dan Budaya: Refleksi Pemikiran Bung Karno dan Gus Kautsar
Kanjeng Adipati Djayengrono bukan hanya sekedar bupati, tetapi ulama besar yang banyak melahirkan generasi penerus, contohnya para kiai besar. Salah satu keturunannya adalah Kiai Muhammad Idris, ia merupakan ulama yang terkenal di Pekalongan. Ada pula santri yang ia didik bernama Sholeh Darat As-Samarani, Semarang. Nama lain Kanjeng Adipati Djayengrono adalah Sayid Qosim dan meninggal sekitar tahun 1717 dan dimakamkan di belakang Masjid Jami Al-Qodim.
Kanjeng Adipati Djayengrono dikenal sebagai sosok ulama dan tokoh karismatik yang menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya. Dakwah yang dilakukan tidak bersifat memaksa, melainkan menyesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa. Melalui cara yang bijak dan penuh toleransi, ajaran Islam diterima secara damai oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, setiap tahun masyarakat Wiradesa mengadakan haul sebagai rasa hormat, syukur dan pengingat atas perjuangan beliau dalam menyebarkan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Baca juga: Tradisi Tirakatan Malam 17 Agustus untuk Menjalin Tali Silaturahmi dan Mendoakan Jasa Pahlawan
Pelaksanaan haul biasanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti pembacaan tahlil, doa bersama, pengajian, serta kenduri atau syukuran. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, perangkat desa, hingga masyarakat umum dari berbagai latar belakang organisasi keislaman. Momen ini menjadi sarana untuk memperkuat tali silaturahmi dan memperkokoh rasa persaudaraan antarwarga. Nilai-nilai seperti gotong royong dan kebersamaan tampak jelas dalam proses persiapan hingga pelaksanaan acara.
Selain sebagai kegiatan keagamaan, haul Kanjeng Adipati Djayengrono juga mengandung nilai pelestarian budaya lokal. Dalam pelaksanaannya, masyarakat masih menggunakan bahasa Jawa dalam doa dan pengumuman acara, serta menyajikan makanan tradisional seperti nasi berkat dan jenang. Acara yang diadakan salah satunya adalah festival seperti karnaval dengan tujuan memperkenalkan berbagai macam budaya di Indonesia, seperti rumah adat dan baju adat dari Bali, baju adat dari Sumatera dan masih banyak lagi budaya di Indonesia.
Mereka membuat kerangka, membuat bahan-bahan untuk karnaval tanpa adanya perbandingan antara aliran-aliran organisasi keislaman. Unsur-unsur budaya ini menunjukkan bahwa Islam di Wiradesa berkembang dengan cara yang damai, tanpa meniadakan tradisi lokal yang positif. Inilah bentuk nyata harmonisasi antara nilai agama dan budaya.
Baca juga: Merawat Tradisi Kuda Renggong dalam Penguatan Budaya Lokal di Sumedang
Nilai moderasi beragama sangat tampak dalam tradisi ini. Warga dari berbagai paham keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, maupun kelompok lain hadir bersama tanpa mempermasalahkan perbedaan cara beribadah. Mereka bersatu dalam niat yang sama, yaitu mendoakan leluhur dan mempererat ukhuah. Sikap saling menghargai ini mencerminkan semangat Islam yang inklusif, moderat, dan menghargai keberagaman. Tradisi haul menjadi media nyata pembelajaran sosial tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama.
Secara keseluruhan, haul Kanjeng Adipati Djayengrono merupakan contoh konkret pelestarian budaya lokal yang berjalan seiring dengan nilai-nilai moderasi beragama. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan, meneladani kebaikan, serta menjaga keseimbangan antara agama dan budaya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, tradisi seperti ini sangat berharga karena memperkuat identitas masyarakat sekaligus menjadi benteng dari sikap intoleransi. Melalui pelestarian tradisi haul, masyarakat Wiradesa telah menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.
