Bukan Kurang Waktu, Mungkin Kita yang Terlalu Banyak Menunda

Penulis: Mohammad Sandi Kurniawan, Editor: Muslimah

“Besok aja.”

Kalimat sederhana itu mungkin sering kita ucapkan. Besok mengerjakan tugas, besok belajar, besok membaca Al-Qur’an, besok memperbaiki diri, atau bahkan besok mulai serius beribadah. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal tidak pernah ada yang menjamin bahwa “besok” benar-benar akan datang.

Kita sering mengeluh bahwa 24 jam sehari terasa tidak cukup. Kuliah, pekerjaan, organisasi, tugas, hingga media sosial membuat waktu terasa cepat berlalu. Namun, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu, melainkan karena kita belum mampu menggunakannya dengan baik.

Semua orang memiliki waktu yang sama. Tidak ada yang mendapatkan 30 jam sehari sementara orang lain hanya 20 jam. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut digunakan. Ada yang menggunakannya untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berkembang. Ada juga yang tanpa sadar menghabiskannya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda.

Baca juga: Menjaga Salat Lima Waktu di Tengah Kesibukan

Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap waktu. Allah Swt. bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr. Surah tersebut mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Waktu memang berbeda dengan harta. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali, barang yang rusak bisa dibeli lagi. Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap hari yang kita lewati sebenarnya adalah bagian dari umur yang berkurang.

Sayangnya, kita sering baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan hilang. Kita baru belajar ketika ujian sudah dekat, baru meminta maaf ketika hubungan sudah rusak, atau baru ingin memperbaiki ibadah ketika sedang menghadapi masalah.

Menunda memang terasa nyaman. Ketika ada tugas, membuka media sosial terasa lebih menyenangkan. Ketika harus belajar, menonton film terasa lebih menarik. Ketika ingin membaca Al-Qur’an, kita berkata, “Nanti setelah selesai main HP.” Tetapi “nanti” sering berubah menjadi “besok”, dan akhirnya tidak pernah dilakukan.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan Allah Swt. Kita mengatakan tidak punya waktu untuk membaca Al-Qur’an atau belajar agama, tetapi masih mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk hiburan. Bukan berarti hiburan itu salah. Kita tetap membutuhkan istirahat. Namun, jangan sampai sesuatu yang hanya untuk kesenangan mendapatkan waktu terbaik kita, sementara ibadah selalu mendapat sisa tenaga.

Karena itu, kita perlu belajar menentukan prioritas. Tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari hal sederhana. Luangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, kerjakan tugas sebelum mendekati tenggat, kurangi waktu bermain media sosial, atau sekadar menghubungi orang tua yang sudah lama tidak kita kabari.

Kita juga tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, menunggu Ramadan untuk memperbaiki ibadah, atau menunggu motivasi untuk belajar. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Imam Hasan al-Bashri pernah mengingatkan bahwa manusia hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirinya juga ikut pergi. Pesan ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar angka di kalender. Waktu adalah kehidupan kita sendiri.

Pada akhirnya, kita bukan benar-benar kekurangan waktu. Kita hanya terlalu sering memberikan waktu kepada hal-hal yang tidak penting dan menunda hal-hal yang sebenarnya berarti. Kita boleh beristirahat, menikmati hiburan, dan bersantai. Tetapi jangan sampai “nanti” menjadi kebiasaan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak “besok” yang masih Allah berikan.

Jika ada kebaikan yang bisa dilakukan hari ini, mengapa harus menunggu besok?